Dokter memeriksa rongga mulut pasien bergejala dan memiliki riwayat kontak erat dengan warga positif Covid-19 sebelum tes swab PCR di sebuah Puskesmas di Bandung, Senin, 14 Juni 2021. Tes PCR terus digencarkan di tengah ancaman ledakan kasus penularan Covid-19 di Bandung Raya yang mencapai 261 persen. TEMPO/Prima Mulia
Kementerian Kesehatan India sudah menegaskan bahwa pada dasarnya Covid-19 varian Delta memiliki sifat yang sama dengan varian asli.

NYENTRIK.COM, Jakarta - Sebuah pesan beredar melalui aplikasi WhatsApp menyatakan bahwa beberapa tes, seperti rapid, swab antigen, maupun swab PCR tidak mampu mendeksi Covid-19 varian Delta—yang pertama kali diidentifikasi di India. Pesan itu juga menjelaskan bagaimana bahayanya varian tersebut dengan gejala yang unik.

“Varian baru yang ditemukan di India (B.1.617) memiliki gejala yang unik, tidak menimbulkan panas tapi virus ini menyerang langsung ke paru-paru. Dan hanya bisa dideteksi dengan LDCT (low dose CT Scan paru) Scan paru-paru yang bisa mendeteksi varian baru ini,” tertulis dalam pesan tersebut.

Beberapa pakar menanggapi isi pesan tersebut, di antaranya ahli patologi klinik Universitas Sebelas Maret (UNS), Tonang Dwi Ardyanto. Menurutnya, Kementerian Kesehatan India sudah menegaskan bahwa pada dasarnya Covid-19 varian Delta memiliki sifat yang sama dengan varian asli.

Tonang menjelaskan bahwa varian Delta memang mampu menghindar dari imun tubuh (evade the immune system) karena ada perubahan terutama pada bagian protein S. Perubahan itu lebih dalam hal bentuk dari Receptor Binding Domain (RBD) dan posisinya. “RBD ini yang menjadi titik ikatan dengan ACE-2 receptor dalam sel tubuh manusia,” ujar dia saat dihubungi, Jumat, 18 Juni 2021.

Dengan perubahan bentuk dan posisi itu, jadi tersembunyi dari pengawasan sistem imun, sehingga bisa berikatan dengan ACE receptor. Bila sudah berikatan, berarti bisa "menguasai sel" kemudian berkembang dan menyebar. Karena sistem imun luput mengawasi, maka tidak timbul gejala.

“Baru ketika persebaran sudah meluas, timbul gejala. Akibatnya memberi kesan ‘kok langsung berat’. Karena beratnya akibat pada jaringan, maka terdeteksi dengan teknik pencitraan (imaging),” tutur Tonang.

Sementara, cara PCR mendeteksi Covid-19, menggunakan pengenalan target gen dengan susunan nukleotida empat huruf, ACTG. Varian virus masih bisa terdeteksi karena dua alasan. Pertama, walaupun ada perubahan dari susunan ACTG, tapi sampai batas tertentu, PCR masih bisa membacanya. Kecuali, kata Tonang, kalau perubahannya sudah begitu kompleks.

Kedua, PCR untuk tes Covid-19 menggunakan target tidak hanya 1 gen. WHO mensyaratkan minimal 2 target gen. Bahkan kadang sampai 3 target. Maka, seandainya terjadi mutasi pada gen S, masih ada target lain yang rendering tidak signifikan mutasinya.

Di Indonesia, hampir semuatidak menggunakan target gen S. Rata-rata menggunakan target N, E, RdRp dan Orf1ab. Maka sampai saat ini masih mampu mendeteksi adanya varian tersebut.“Tentu, tetap harus terus dipantau seberapa pergerakan mutasi itu, apakah sudah sampai ke target-target gen selain gen S, dan seberapa kompleks perubahannya.”

Untuk tes antigen, rata-rata menggunakan target protein N. Dari RNA jadi protein ada proses translasi. Menurut Tonang yang juga dosen ilmu patologi klinik di UNS itu, ada penyandian code setiap 3 nucleotide menjadi asam amino.

Hanya saja, dia berujar, satu asam amino itu bisa disandi oleh beberapa kombinasi kode 3 huruf. Maka ketika terjadi mutasi, hampir tidak sampai mengubah asam amino yang dihasilkan. Maka protein yang terbentuk juga masih sama.

“Masalah baru timbul bila mutasi di protein N untuk antigen tersebut mengalami perubahan kompleks sampai berubah struktur proteinnya,” kata Tonang.

Dan untuk tes antibodi, menyesuaikan bentuk protein dari virus. Bila memang sudah teridentifikasi suatu mutasi dan perubahannya yang signifikan mengganggu tes antibodi, secara teknologis segera bisa dilakukan penyesuaian terhadap probe (penjejak) untuk tes antibodi.“Sekali lagi, apapun variannya, apapun mutasinya, yang penting hindari masuk tubuh kita,” ujar dia menambahkan.

Sementara Guru Besar Biologi Molekuler dari Universitas Airlangga (Unair), Chairul Anwar Nidom, menjelaskan sebetulnya tidak selalu atau hanya dengan LDCT yang mampu mendeteksi varian Delta yang sudah menyebar di beberapa wilayah Indonesia.

Menurutnya, orang laboratorium sudah bisa memperkirakan atau mengetahuinya, tidak harus menunggu hasil sequensing, melainkan hanya dengan melihat nilai CT atau Cycle Threshold-nya saja. Jika nilai CT-nya rendah (di bawah angka 19), maka virus yang dideteksi akan mengarah kepada varian Delta itu.

“Tapi kalau di atas itu, masih virus umum yang selama ini ada. Virus di bawah CT 19 ini mempunyai karakter-karakter tersendiri,” kata profesor di Fakultas Kedokteran Hewan Unair itu.

Selain itu, Nidom juga menyarankan, pelacakan varian baru bisa dilakukan melalui uji daya proteksi, jika antibodi sudah terbentuk. Melalui cara deteksi antibodi ini sekaligus bisa diketahui virus yang menginfeksi.

Selama ini, Nidom bersama tim dari laboratorium Profesor Nidom Foundation bisa mendetekasinya. Dia mengaku, sampai saat ini belum ada kesulitan untuk mendeteksi, tapi jika untuk membedakan apakah virus itu lama atau baru, bisa ditambahkan deteksinya dengan melihat CT dan daya proteksi khusus virus baru.

“Jika pesan yang beredar dibuat oleh pihak yang tidak punya keahlian di bidang virologi atau lab, berarti hoax. Tapi kalau dari pihak yang bekerja di lab, perlu meningkatkan skill dan pengetahuan, khususnya pendekatan dan karakter virus,” ujar dia menambahkan.

Sementara, Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Ari Fahrial Syam, menanggapi singkat saja, dan menyatakan bahkan tes swab PCR masih mampu mendeteksi varian Delta. “Tidak benar (pesan itu), masih bisa kok (PCR deteksi Covid-19 varian Delta),” tutur Ari yang juga Dekan FKUI itu.