Komandan Pusat Polisi Militer Angkatan Laut (Danpuspomal), Laksamana Muda TNI Nazali Lempo saat konferensi pers kasus kekerasan melibatkan enam oknum anggota POM AL. (Foto: MPI/Jonathan Simanjuntak)
Komandan Pusat Polisi Militer Angkatan Laut (Danpuspomal), Laksamana Muda TNI Nazali Lempo saat konferensi pers kasus kekerasan melibatkan enam oknum anggota POM AL. (Foto: MPI/Jonathan Simanjuntak)

JAKARTA, iNews.id - Aksi pengeroyokan oleh enam oknum anggota POM AL terhadap dua warga sipil di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat (Jabar), hingga menewaskan satu orang, ternyata berawal dari mobil hilang. Salah satu oknum POM AL mendapat informasi dari orang tua pacarnya, telah kehilangan mobil.  

Komandan Pusat Polisi Militer Angkatan Laut (Danpuspomal), Laksamana Muda TNI Nazali Lempo menjelaskan, soal kehilangan mobil itu disampaikan saat salah satu oknum POM AL, MDF  beristirahat di rumah pacar yang juga calon istrinya. 

Dia dan lima temannya anggota POM AL yang juga atlet dayung menyelesaikan latihan dayung. Selesai latihan, dia terkadang beristirahat di rumah pacarnya yang tidak jauh dari lokasi latihan. 

"Selesai latihan dia kadang istirahat di sana (rumah perempuan yang menjadi calon istri),” kata Laksamana Muda TNI Nazali Lempo di Kantor Pusat TNI AL, Kamis (18/6/2021).

Saat itu, orang tua calon istri anggota POM AL itu melaporkan kehilangan mobil dan meminta bantuan kepada pacar anaknya untuk mencari. Mendengar informasi tersebut, anggota POM AL itu berencana mencari pelakunya.

“Orang tua sampaikan ke anggota kita sehingga anggota kita berinisiatif untuk mencari pelakunya. Orang tuanya minta bantu karena terkait mobil hilang, anggota kita sering ke sana.” kata Danpuspomal.

Nazali melanjutkan, anggotanya kemudian mencari pelaku terkait kehilangan mobil tersebut. Setelah menemukannya, mereka membawa pelaku ke mes atlet di Purwakarta, Sabtu (29/5/2021). Di sana, warga tersebut diinterogasi terkait mobil orang tua pacar anggota POM AL yang hilang.

"Anggota kita inisiatif mencari pelakunya, jadi bukan penculikan. Pas pelakunya ketemu, dibawa ke (mes atlet) itu, mungkin dia interogasi,” ujarnya.

Di mes atau wisma atlet itu, sekitar pukul 19.00 WIB, oknum POM AL diduga emosi saat menginterogasi warga sipil tersebut sehingga melakukan kekerasan. Enam oknum anggota TNI AL itu yakni, MDF, WI, YMA, BS, SMDR dan MDS mengeroyok dua warga hingga salah satunya tewas.

"Itulah awalnya. Kejadiannya mungkin di luar kendali juga. Anggota kita mungkin lepas emosi untuk menekan. Mungkin saat kejadian itu terjadi tindakan yang di luar batas sehingga salah satu anggota tersebut, anggota masyarakat, meninggal dunia," ujarnya.

“Memang setelah pendalaman mereka ini, yang mungkin terjadi tindak kekerasan di sana. Nah, sementara yang punya hubungan dengan perempuan itu si MDF," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut (Kadispenal​) Laksamana Pertama Julius Widjojono menegaskan pihaknya akan mengawal proses hukum terhadap keenam anggota TNI AL tersebut. Julius memastikan tidak ada toleransi terhadap para pelaku tersebut.

“Tidak ada toleransi, dihukum seberat-beratnya. Ini dijadikan pembelajaran untuk yang lain untuk tidak mengulangi hal yang sama," kata Julius Widjojono.