Siapa perawan tua yang dimaksud dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)? gadis yang sudah tua dan belum menikah.

Ini temuan saya di KBBI Online. Julukan ini lazim dilontarkan sebagai penghinaan pada perempuan berusia di atas 30, namun belum menikah. Alasan mereka, perempuan baik-baik harusnya menikah secepat mungkin. Selain perkara jam biologis (agar lebih mudah hamil dan melahirkan anak), perempuan yang menikah dianggap mengurangi beban ekonomi keluarga, menjalankan ajaran agama, hingga lebih mudah terhindar dari zina.

Yah, tidak peduli si perempuan kenyataannya bekerja dan sudah bisa menghasilkan uang sendiri, berusaha menjalankan ritual-ritual lain di agamanya dengan sebaik mungkin, hingga memutuskan untuk tidak berhubungan seksual sebelum menikah. Pokoknya, yang penting dia harus segera menikah dulu, baru aman.

Lalu, bagaimana bila si perempuan itu belum menikah juga di usianya yang sudah 30 ke atas? Bila kamu termasuk dianggap demikian, persiapkan mentalmu untuk kemungkinan menghadapi sembilan (9) gangguan ini dari orang-orang sekitarmu:

1.Apapun prestasimu di masyarakat, mereka tetap akan mencari kesalahanmu.

Ira Koesno, presenter Indonesia umurnya diatas usia 50 tahun, cerdas, dan sukses. Hanya karena hingga kini belum menikah, banyak netizen yang nyinyir dengannya. Padahal, Ira sendiri mengaku sudah cukup bahagia dengan hidupnya sekarang.

Begitulah bila kamu dicap perawan tua oleh mereka di Indonesia yang “katanya menerima keberagaman”. Prestasi dan kontribusimu yang lain seakan tidak dianggap. Mereka tetap akan mencari-cari kesalahanmu. Entah karena kamu dianggap terlalu pintar, kritis, gemuk, mencintai karir, pemilih soal calon pasangan hidup, pokoknya salah terus, deh.

2.Gagal merongrongmu, mereka akan mengganggu orang tuamu

Kamu termasuk pede dan cuek akan anggapan mereka tentangmu yang masih melajang? Sayangnya, mereka tidak akan berhenti sampai di situ. Mulailah mereka untuk mengusik orang tuamu, mulai dari sering bertanya-tanya kapan kamu akan menikah hingga kog kamu tidak kunjung bersuami juga. Tidak sedikit yang cukup lancang untuk blak-blakan ke ortumu bahwa menurut mereka, kamu itu mungkin terlalu pemilih, kurang dandan, kurang ramah, terlalu kritis, dan apa pun yang menurut mereka bisa dijadikan contoh penyebab kamu belum mendapatkan suami.

Beruntunglah bila ortumu termasuk santai untuk urusan jodohmu. Bila tidak? Siap-siap saja mulai lebih sering berdebat dengan mereka. Yang sudah mengganggu ortumu dengan semua pertanyaan itu mana peduli. Hubunganmu yang tadinya baik-baik saja dengan ortumu jadi rusak gara-gara keusilan mereka, tapi jangan harap mereka sudi bertanggung jawab. Toh, mereka akan selalu bisa beralasan: “sekadar mengingatkan.”

3.Kamu akan dituduh penyuka sesama jenis, alias lesbian.

Apalagi bila kebetulan kamu juga senang bergaya tomboi. Rasanya melelahkan sekali secara mental bila harus bolak-balik klarifikasi sama orang-orang yang hobi main asumsi begini. Tahu sendiri ‘kan, masih banyak sekali orang Indonesia yang hobi stereotipe seseorang hanya dari penampilan luar.

Pada kenyataannya, tidak semua perempuan lesbian itu tomboi. Ada yang feminin, tapi takkan tertarik sama laki-laki, bahkan yang secakep Song Joong-ki pemeran Vincenzo sekali pun. Banyak juga perempuan yang terpaksa berpura-pura hetero dan menikahi laki-laki, biasanya karena tekanan sosial hingga takut mengecewakan keluarga mereka.

4.Kamu dituduh kurang berusaha, tapi giliran usaha malah dikira putus-asa.

Saat perempuan masih remaja dan di usia 20-an, nasihat mereka adalah jangan terlalu agresif. Biarkan laki-laki yang pedekate duluan, biar si perempuan tidak dikira putus-asa. Tapi giliran menurut, sehingga malah melajang lebih lama, perempuan juga yang dituduh kurang usaha.

Sayangnya, maksud mereka ‘kurang usaha’ bukan pedekate duluan. ‘Kurang usaha’ versi mereka sungguh dangkal, mulai dari kurang dandan, kurang ramah, kurang jaga berat badan, hingga kurang berusaha menjadi versi perempuan sempurna yang menurut mereka akan lebih diminati banyak laki-laki.

5.Bila kamu menang debat sama mereka, siap-siap saja dilabeli ‘perawan tua nyinyir’.

Meskipun saat berdebat argumenmu terbukti benar, mereka tidak akan terima. Siap-siap saja mendengar komentar julid mereka semacam: “pantas mulutmu nyinyir, perawan tua, sih.” Padahal, mereka sendiri yang sebenarnya tukang nyinyir.

6.Banyak laki-laki yang sok tahu soal organ reproduksimu

Ini juga serba salah jadi perempuan, apalagi masyarakat Indonesia yang masih sangat patriarki ini memaklumi otak mesum laki-laki. Bila mereka tahu kamu masih perawan (tapi belum tua), pasti ada saja predator seks yang berpikir: “hmm, lumayan nih, belum ada yang nyicip.” (Memangnya perempuan disamakan dengan makanan?. Heran, deh.)

Giliran tahu bahwa kamu sudah aktif secara seksual meskipun belum menikah, mereka akan mengiramu gampangan dan mau tidur sama siapa saja. Apalagi yang sudah berstatus janda, alamat diasumsikan “haus belaian laki-laki terus”. Idih, kegeeran. Eh, perempuan yang sudah berusaha mengikuti standar norma masyarakat dengan tidak berhubungan seksual sebelum menikah, masih dihina-hina juga. Sepertinya, selalu ada celah untuk melecehkan perempuan, ya.

7.Kamu dituduh terlalu pemilih dan malah dibujuk untuk menjadi gampangan.

Bahkan, mereka tidak mau tahu kalau pada kenyataannya, bisa jadi belum ada yang mau memilihmu. Masa mau mengemis-ngemis cinta? Nanti malah disebut gampangan lagi.

Ngomong-ngomong soal gampangan, mereka berasumsi dengan istilah “kamu bisa banting harga”. (Hah?) Asal menyodorkan laki-laki untuk dijodohkan denganmu, tanpa peduli kamu tertarik atau tidak. Bila kamu bilang tidak, siap-siap saja dicela: “udah perawan tua aja masih belagu. Udah bagus masih ada yang mau sama kamu.”

8.Kamu ditakut-takuti akan hidup sendiri di usia senja nanti, karena tidak ada anak yang akan mengurusi.

Kata mereka, nanti saat kamu sudah tua dan jompo, kamu akan merana sendirian tanpa anak yang mengurusi. Untuk ukuran masyarakat yang mengaku percaya Tuhan dan beragama, bisa-bisanya mereka bicara mendahului takdir, seakan paling tahu dengan masa depanmu nanti, paling tahu dengan masa tuamu nanti.

Dari mana mereka tahu bahwa anak-anak mereka akan berumur panjang dan tidak meninggal duluan? Dari mana mereka bisa yakin mereka benar-benar akan diurus oleh anak-anak mereka sendiri? Oh, iya. ‘Kan ada yang namanya ‘hutang budi’. Cukup takut-takuti anak dengan label durhaka agar mau mengurus mereka di usia senja nanti. Padahal, bukankah lebih baik anak melakukannya sendiri karena murni ikhlas dari hati?

9.Kamu dianggap sebagai perempuan yang tidak berguna

Kata mereka, perempuan tidak ada gunanya kalau tidak menikah dan tidak bisa memberikan anak. Ya, asal jangan habis itu mereka tiba-tiba meminta untuk meminjam uang pada si perempuan lajang yang mereka hina-hina. Tidak malu, apa?

Dicap perawan tua sama mereka? Santai saja. Jangan sampai mulut-mulut jahat mereka yang “katanya beragama” mempengaruhimu hingga salah membuat keputusan. Kamulah orang yang paling tahu kebutuhanmu sendiri

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)