4 Fakta tentang Model Hijab Pertama yang Jadi Editor Fashion di Vogue
4 Fakta tentang Model Hijab Pertama yang Jadi Editor Fashion di Vogue. Foto: dok. Instagram

Model hijab Rawdah Mohamed beberapa waktu lalu mengumumkan dirinya menjadi editor fashion atau mode dari majalah Vogue Skandinavia yang akan rilis pada Agustus mendatang. Menurut laporan The Guardian, perempuan asal Somalia-Norwegia ini menjadi editor fashion berhijab pertama di majalah fashion barat.

Dalam pernyataan yang ia posting di akun Instagram pribadinya, Rawdah mengatakan bahwa ia siap belajar, bertumbuh dan menghadapi segala tantangan sebagai editor fashion. Ia juga memiliki misi bisa menjadi representasi harapan bagi masyarakat.

"Saya berharap menjadi harapan masyarakat dengan banyak belajar, tumbuh, dan menghadapi tantangan yang ada nantinya. Saya berharap kalian siap dan bangga seperti saya," tulis Rawdah Mohamed dalam keterangan fotonya.

Untuk mengenal lebih dalam soal Rawdah Mohamed, kumparanWOMAN telah merangkum beberapa fakta tentang dirinya. Dilansir berbagai sumber, simak selengkapnya berikut ini.

1. Memulai karier sebagai influencer

Rawdah lahir di Somalia dan mulai mengenakan hijab sejak berusia tujuh tahun. Ia kemudian pindah ke Norwegia bersama keluarga saat berusia delapan tahun dan menempuh pendidikan di sana. Saat tinggal di Norwegia, Rawdah sering menjadi korban rasisme dan bullying dari teman-temannya karena memakai hijab dan warna kulitnya.

Rawdah sendiri memulai kariernya lewat media sosial sebagai influencer. Ia sering mengunggah konten fashion hingga mendapat 51 ribu pengikut. Selain itu, menurut laporan Vogue UK, Rawdah juga bekerja sebagai pekerja kesehatan profesional yang fokus pada anak-anak dengan autisme. Ia juga bekerja sebagai analis perilaku yang menangani orang dengan gangguan mental.

Kariernya sebagai model pun menanjak setelah ia banyak dilirik oleh industri mode di Arab. Ia juga banyak menghadiri acara-acara pekan mode, seperti Oslo Fashion Week, Paris Fashion Week, Copenhagen Fashion Week, dan gala selebriti di Norwegia, Kjendisgallaen. Rawdah banyak menarik perhatian ketika memamerkan gaya street style di acara-acara pekan mode. Jadi sejak 2019, ia mulai beradaptasi dengan dunia modelling di barat.

2. Rawdah Mohamed aktif menyuarakan isu terkait hijab

Selama menjalani karier sebagai model, Rawdah Mohamed dikenal dengan gayanya yang nyentrik. Ia berhasil memadukan gaya street style dengan high fashion dengan apik yang membuat tampilannya berbeda dan menarik perhatian. Selain itu, Rawdah juga dikenal sebagai seorang aktivis yang aktif menyuarakan isu seputar perempuan berhijab.

Pada April lalu, Rawdah mengunggah foto dirinya dengan tulisan 'Hands off my hijab' di telapak tangan. Di momen yang sama, ia meluncurkan kampanye #HandoffMyHijab untuk memprotes usulan larangan Prancis terhadap anak di bawah umur yang mengenakan hijab di ruang publik.

Lalu pada 30 Maret, Senat Prancis memperkenalkan undang-undang baru yang mengumumkan larangan soal anak di bawah umur yang memakai simbol agama mencolok dan pakaian yang akan menandakan inferioritas wanita atas pria. Undang-undang itu lalu dikecam oleh para kritikus, termasuk Rawdah, yang mengatakan bahwa aturan tersebut menargetkan masyarakat Muslim.

Kampanye yang dilakukan Rawdah Mohamed ini kemudian viral dan masyarakat dunia ikut menunjukkan solidaritas, termasuk perempuan berhijab di Prancis. Tagar #HandoffMyHijab juga populer di Prancis dengan bahasa yang disesuaikan, yaitu #PasToucheAMonHijab. Di Amerika, congresswoman Ilhan Omar dan atlet Olympic Ibtihaj Muhammad juga turut berpartisipasi.

3. Pernah banyak ditolak jadi model karena berhijab

Dalam aksinya ini, Rawdah kemudian membagikan pengalamannya sebagai model berhijab. Ia kesulitan mendapat pekerjaan sebagai model karena ditolak dengan alasan berhijab. Tak hanya itu, perjalanan Rawdah juga tidak mudah. Menurut The Guardian, Rawdah mengungkap bahwa ia menghadapi penghinaan dan penolakan di industri fashion. Banyak klien juga ragu memberinya kesempatan untuk tampil di Paris Fashion Week lantaran banyak politisi Prancis yang tak suka dengannya. Hal ini terjadi karena ia aktif mengkritik pemerintahan Prancis.

Rawdah juga menceritakan bahwa ia selalu membawa hijab cadangan kemana-mana karena takut yang ia pakai ditarik orang di jalan sebab ia pernah diserang secara fisik dan verbal.

"Ini adalah tugas kita sebagai manusia untuk bisa membela dan memperjuangkan hak satu sama lain. Larangan hijab ini adalah bentuk retorika kebencian yang datang dari tingkat tertinggi pemerintahan dan akan dianggap sebagai kegagalan besar nilai-nilai agama dan kesetaraan," tulis Rawdah dalam akun media sosialnya.

4. Turut membela Palestina

Tak hanya itu, Rawdah Mohamed juga menyuarakan isu lain. Belakangan ini ia menggunakan media sosialnya untuk meningkatkan kepedulian terhadap penyerangan Palestina yang dilakukan oleh Israel.

Dalam aksinya, Rawdah meminta agar pengikutnya aktif membagikan konten laporan berita soal Israel dan Palestina di media sosial. Ia juga mengecam Israel atas pelanggarannya selama sebulan terakhir.

"Masyarakat Palestina mengandalkan Anda untuk meningkatkan kesadaran dan Zionis mengandalkan Anda untuk tetap diam. Meski kelihatannya sia-sia, teruslah membagikan informasi, gunakan tagar, dan tetap cari informasi. Israel sangat peduli dengan penampilan mereka di media. Mari kita ungkap kekejaman mereka," ungkap Rawdah seperti dikutip dari Middle East Eye.