Jump to content

matamatapolitik

Members
  • Content count

    2
  • Joined

  • Last visited

Community Reputation

0 Neutral
  1. Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu telah memperingatkan adanya kemungkinan serangan pemerintah Suriah di provinsi Idlib yang dikuasai pemberontak Suriah sebelumnya, dan mengatakan bahwa solusi militer “akan menjadi bencana,” bukan hanya untuk daerah itu, tetapi untuk seluruh Suriah. Cavusoglu melontarkan komentar tentang Perang Suriah itu di Moskow, ketika pasukan Suriah yang didukung oleh Rusia berkumpul, menjelang serangan yang diperkirakan terhadap Idlib. “Kita harus terus bekerja sama untuk mempertahankan gencatan senjata di Suriah, di bawah Proses Astana,” kata Cavusoglu pada konferensi pers Moskow dengan rekannya dari Rusia, Sergey Lavrov. Cavusoglu juga mengutip risiko bagi penduduk sipil yang besar di wilayah itu, dengan mengatakan, “Warga sipil akan dirugikan.” Lavrov, untuk bagiannya, mengatakan, “Kami sepakat untuk melanjutkan upaya bersama kami untuk menstabilkan situasi di wilayah (Suriah), dan menciptakan kondisi yang aman bagi pengungsi Suriah untuk pulang ke rumah.” Proses Astana menyerukan Rusia dan Iran—para pendukung utama pemerintah Suriah—untuk bekerja sama dengan Turki—salah satu pendukung utama pemberontak—untuk mengakhiri perang sipil Suriah. Idlib adalah salah satu dari apa yang disebut “zona de-eskalasi” yang dibuat di bawah Proses Astana, di mana pemberontak dan keluarga mereka pindah ke area yang dilindungi oleh gencatan senjata; Namun, pasukan pemerintah Suriah yang didukung oleh kekuatan udara Rusia telah menguasai semua zona kecuali Idlib. Lebih dari dua juta warga Suriah, bersama dengan sekitar 100 ribu atau lebih pemberontak, bersembunyi di Idlib, yang berbatasan dengan Turki. Ankara telah mendirikan 12 pos pengamatan militer sebagai bagian dari kesepakatan dengan Teheran dan Moskow. Pada bulan Juni, seorang penasihat senior Presiden Turki—berbicara dengan VOA dengan syarat anonimitas—memperingatkan bahwa Ankara tidak akan mengizinkan Idlib untuk dikuasai. “Ini adalah ‘bom’ waktu yang perlu dijaga (agar tak meledak), saat ini,” kata mantan diplomat senior Turki, Aydin Selcen, yang menjabat di seluruh wilayah itu. Baca Selengkapnya: Sumber
  2. Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) akan melambat dalam beberapa kuartal mendatang, setelah menyentuh titik tertinggi selama empat tahun—pada April-Juni—menurut jajak pendapat ekonom Reuters, yang memperkirakan bahwa perang perdagangan Presiden Donald Trump akan menimbulkan kerusakan. Didorong sebagian oleh pemotongan pajak $1,5 triliun yang diloloskan pada akhir tahun lalu, ekonomi AS meningkat hingga tingkat tahunan 4,1 persen pada kuartal kedua—kinerja terkuatnya dalam hampir empat tahun. Tapi jajak pendapat terbaru terhadap lebih dari 100 ekonom, yang dilaksanakan pada tanggal 13 hingga 21 Agustus 2018 menunjukkan, bahwa mereka memperkirakan ekonomi AS akan kehilangan momentum dan mengakhiri tahun depan dengan pertumbuhan kurang dari setengah dari tahun ini. Perekonomian AS diperkirakan tumbuh tiga persen dalam kuartal saat ini, dan 2,7 persen di tahun berikutnya—sedikit peningkatan dari jajak pendapat sebelumnya. Tetapi dorongan jangka pendek untuk pertumbuhan dari pemotongan pajak diperkirakan akan berkurang. Para ekonom memangkas proyeksi pertumbuhan mereka di sebagian besar kuartal tahun depan, yang membuat pandangan mereka secara luas tidak berubah dan rentan terhadap konflik perdagangan dengan China. “Langkah-langkah perdagangan yang diambil oleh AS sejauh ini, dan pembalasan oleh pemerintah asing mungkin akan memperlambat ekonomi sedikit,” kata Philip Marey, ahli strategi senior AS di Rabobank. “Namun, itu bisa berubah dalam kasus perang perdagangan global, di mana berbagai negara asing mengambil langkah-langkah proteksionis yang ditujukan pada AS, yang bagaimanapun juga, adalah pihak yang mencoba mengubah status quo.” Hampir dua pertiga dari 56 ekonom yang menjawab pertanyaan tambahan, mengatakan bahwa mereka telah mempertimbangkan dampak dari perang perdagangan Trump yang meluas dalam prediksi pertumbuhan AS mereka. Itu adalah proporsi yang hampir sama dengan jajak pendapat para ekonom yang mencakup zona euro yang diterbitkan pada Rabu (22/8) (ECILT/EU). Dua puluh ekonom lainnya mengatakan bahwa perang dagang tidak memberikan pengaruh pada perkiraan mereka, tetapi menggarisbawahi risiko penurunan jika ketegangan perdagangan semakin dalam. “Pada saat ini, dengan apa yang kita tahu dan yakini akan terjadi, kami mengakui bahwa risiko terhadap prospek adalah sisi negatif dari perang dagang. Meskipun demikian, kami belum secara substansial menurunkan prospek pertumbuhan PDB AS kami. Kerusakan lebih lanjut dan kinerja akhirnya tentu bisa mengubah pandangan kami, bagaimanapun,” kata Sam Bullard, ekonom senior di Wells Fargo. Walau Trump mengatakan bahwa tarif perdagangan ini akan menguntungkan perekonomian AS, namun tidak ada ekonom yang disurvei oleh Reuters yang menyetujui pandangan tersebut. Semua tarif yang dikenakan dan tindakan pembalasan sampai sekarang sebagian besar terbatas pada permesinan industri dari China, komponen elektronik, dan barang setengah jadi lainnya, dan hanya memberikan dampak terbatas pada perekonomian AS. Namun, putaran tarif berikutnya yang direncanakan akan diberlakukan pada akhir September, ditujukan untuk produk-produk konsumen dan kemungkinan akan berdampak negatif pada ekonomi secara keseluruhan, karena belanja konsumen berkontribusi lebih dari dua pertiga produk domestik bruto (PDB) AS. Baca Sumber
×