Jump to content
advertisement_alt

matamatapolitik

Members
  • Content count

    210
  • Joined

  • Last visited

Everything posted by matamatapolitik

  1. Seruan meningkat di Manila agar AS dan Filipina menegakkan perjanjian pertahanan bersama mereka untuk melawan dan mengusir China di Laut China Selatan. Salah satu bidang potensial untuk perubahan, kata Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana, adalah komitmen AS yang lebih kuat untuk membantu Filipina melawan pasukan milisi China yang semakin mengancam kapal-kapal Filipina di wilayah-wilayah maritim di mana Filipina mempertaruhkan klaim berdaulat. Oleh: Richard Javad Heydarian (Asia Times) Ketika sebuah kapal China menabrak dan menenggelamkan kapal nelayan Filipina bulan ini di Reed Bank yang diperebutkan di Laut China Selatan, banyak orang di Manila bertanya-tanya apakah Amerika Serikat (AS) akhirnya akan melakukan intervensi terhadap agresi laut Beijing. Tabrakan itu memicu protes anti-China baru di ibu kota Filipina, dan memicu kembali perdebatan mengenai Perjanjian Pertahanan Bersama AS-Filipina (MDT) tahun 1951, yang mengharuskan mitra strategis lama tersebut untuk saling membela satu sama lain jika terjadi serangan terhadap wilayah kedaulatan, aset, atau personel mereka. Tokoh-tokoh terkemuka Filipina sekarang menyerukan kepada Presiden Rodrigo Duterte untuk mengaktifkan perjanjian tersebut untuk melawan ancaman China yang meningkat terhadap wilayah Filipina yang berdaulat di Laut China Selatan, yang dicontohkan oleh milisi Beijing yang baru-baru ini berkerumun di pulau Thitu untuk memblokir peningkatan strategis fasilitas Filipina. Seruan itu datang seiring pemerintah Presiden AS Donald Trump telah meningkatkan jaminan strategis untuk sekutu regional tertuanya tersebut, di mana Washington menyatakan untuk pertama kalinya kesediaannya untuk campur tangan secara militer terhadap pasukan milisi maritim China dalam membela posisi Filipina di Laut China Selatan. “Kegiatan pembangunan pulau dan militer China di Laut China Selatan mengancam kedaulatan, keamanan, dan karenanya mata pencaharian ekonomi Anda, serta mata pencaharian AS,” Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan dalam kunjungannya pada akhir Februari ke Manila. Baca Artikel Selengkapnya di sini
  2. Dalam kunjungannya ke Israel, John Bolton kembali melontarkan serangan kepada musuh bebuyutannya, Iran. Setelah Presiden Donald Trump membatalkan rencana serangan udara ke Iran, Bolton memperingatkan Tehran bahwa opsi militer masih bisa jadi pilihan. Bolton berada di Israel untuk pertemuan tiga pihak pada hari Selasa (25/6) dengan menteri luar negeri Rusia dan Israel. Oleh: David M. Halbfinger (The New York Times) Penasihat keamanan nasional Presiden Trump, John Bolton, memperingatkan Iran pada hari Minggu (23/6) agar tidak “salah menilai kehati-hatian dan kebijaksanaan AS sebagai kelemahan,” mengatakan bahwa tindakan militer terhadap Iran masih menjadi pilihan meskipun AS pekan lalu membatalkan satu serangan militernya. Memanasnya konflik AS Iran telah membuat Trump hampir memerintahkan serangan balasan atas ledakan pada tanker minyak di Teluk Oman dan penembakan pesawat pengintai tanpa awak AS oleh Iran. AS mengatakan bahwa Iran bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal-kapal di dekat Selat Hormuz tersebut, tetapi Iran membantahnya. Iran juga mengatakan bahwa pesawat tanpa awak itu melanggar wilayah udaranya, meskipun para pejabat AS mengatakan pesawat itu ada di atas perairan internasional. “Tidak ada yang memberi mereka izin untuk berburu (pesawat tanpa awak) di Timur Tengah,” kata Bolton pada hari Minggu (23/6) di Yerusalem bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dia menggemakan peringatan Trump bahwa militer AS “telah diperbarui dan siap untuk serangan”. Pekan lalu, Organisasi Energi Atom Iran mengatakan bahwa negara itu dalam waktu 10 hari akan menghasilkan lebih banyak uranium yang diperkaya rendah―jenis yang digunakan untuk bahan bakar pembangkit listrik―daripada jumlah yang diizinkan oleh kesepakatan nuklir Iran 2015. Organisasi tersebut mengatakan bahwa pihaknya mungkin akan segera memulai memperkaya uranium ke tingkat kemurnian yang lebih tinggi, membawa Iran lebih dekat ke pembangunan senjata nuklir. “Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” kata Bolton pada hari Minggu (23/6). “Tidak untuk melawan AS, dan tidak untuk melawan dunia.” Baca Artikel Selengkapnya di sini
  3. Untuk mencegah radikalisme dalam jajaran birokrasi, pemerintah Indonesia akan memperketat seleksi kenaikan jabatan untuk PNS senior. Pemerintah akan memberlakukan pemeriksaan latar belakang yang lebih ketat dan tes psikologi baru untuk mengukur kecenderungan radikalisme para kandidat. Seorang pejabat mengatakan bahwa Presiden Jokowi menerapkan kebijakan ini untuk memastikan Indonesia tetap menjadi contoh bagi Islam moderat. Oleh: Reuters/South China Morning Post Indonesia berencana untuk memperketat pemeriksaan terhadap pejabat publik senior, di tengah kekhawatiran bahwa ideologi Islam radikal telah meresap ke tingkat pemerintahan yang tinggi, menurut dokumen yang diulas oleh Reuters dan seorang pejabat senior yang terlibat dalam rencana tersebut. Indonesia secara resmi sekuler, tetapi telah terjadi peningkatan politisi yang menuntut peran Islam yang lebih besar di negara mayoritas Muslim terbesar di dunia ini, di mana beberapa kelompok menyerukan negara Islam. Peningkatan konservatisme adalah ujian utama bagi Presiden Joko Widodo yang terpilih kembali dalam Pilpres 2019, di mana beberapa kelompok Islam menuduhnya anti-Islam dan memberikan dukungan untuk lawan Jokowi, Prabowo Subianto. Jokowi terpilih kembali untuk masa jabatan kedua, tetapi pola Pilpres 2019 mengungkapkan perpecahan yang semakin dalam antara wilayah-wilayah yang dikenal sebagai penganut Islam moderat dan wilayah Muslim konservatif yang mendukung Prabowo. Pejabat senior pemerintah ini—yang merupakan bagian dari tim yang merumuskan kebijakan pemeriksaan baru tersebut—mengatakan bahwa Jokowi bermaksud untuk menjadikan kebijakan ini sebagai bagian dari warisannya untuk memastikan Indonesia tetap menjadi contoh bagi Islam moderat. Pejabat itu mengatakan bahwa Jokowi sangat percaya bahwa Islam radikal mengancam aparat negara serta masa depan demokrasi. Rencana pemeriksaan tersebut adalah prioritas besar baginya, kata pejabat itu, yang menolak disebutkan namanya. “Dia ingin sebelum pemilu berikutnya pada 2024, elemen-elemen garis keras dan radikal disingkirkan untuk mencapai demokrasi yang lebih sehat,” kata pejabat itu. Kantor Jokowi tidak menanggapi permintaan komentar. Menurut dokumen-dokumen itu, pemerintah ingin memperkenalkan pemeriksaan latar belakang yang lebih ketat dan tes psikologi baru untuk mengukur kecenderungan radikalisme para kandidat—terutama bagi mereka yang mencari kenaikan jabatan ke posisi dua teratas birokrasi. Baca Artikel Selengkapnya di sini
  4. Mantan Presiden Mesir Mohamed Morsi adalah korban tragedi abadi yang hantui Mesir. Meski pemerintahannya memiliki kelemahan dan kekurangan, namun kepresidenan Morsi adalah secercah harapan untuk masa depan yang demokratis di negara yang telah lama didominasi oleh para diktator yang kejam. Harapan singkat itu terbukti sangat sulit untuk dipadamkan. Enam tahun setelah kudeta yang menggulingkan Morsi, banyak orang Mesir terus menganggap rezim saat ini sebagai penguasa yang tidak sah. Di bawah kepemimpinan El-Sisi yang kejam, Mesir masih terus dilanda tragedi. Oleh: Abdullah Al-Arian (Al Jazeera) Kematian mantan Presiden Mesir Mohamed Morsi hanyalah yang terbaru dari serangkaian tragedi tak terhitung yang menimpa Mesir, sejak percikan revolusi muncul lebih dari delapan tahun yang lalu. Kenaikannya yang nyaris mustahil ke kursi kepresidenan mencerminkan aspirasi jutaan rakyat Mesir untuk masa depan yang bebas dari pemerintahan militer yang kejam. Penangkapannya berikutnya di tangan kediktatoran yang bangkit kembali, membuatnya menjadi salah satu dari 60.000 orang Mesir yang dipenjara karena berani berupaya mencari kehidupan yang lebih baik. Keadaan misterius seputar kematian Morsi saat berada dalam tahanan dinas keamanan negara Mesir, memunculkan banyak pertanyaan. Tetapi tidak ada keraguan tentang kesalahan rezim atas kematian yang telah lama diincarnya itu, baik melalui serangkaian kasus hukuman mati palsu terhadap mantan presiden tersebut, atau sebagai konsekuensi dari kondisi penjara yang mengerikan yang telah berkontribusi pada kesehatannya yang buruk dan kematiannya, yang telah dikecam oleh badan-badan hak asasi manusia internasional. Bagi Abdel Fattah el-Sisi—marsekal yang menggulingkan Morsi dalam kudeta Juli 2013 dan memulihkan pemerintahan militer di Mesir—kematian Morsi menandai satu lagi tonggak bersejarah dalam misi enam tahun untuk mengubur sisa-sisa sisa transisi demokrasi Mesir yang berumur pendek. Proses itu dimulai ketika menteri pertahanan tersebut memerintahkan penangkapan Morsi—presiden yang terpilih secara demokratis dan telah mengangkat Sisi—dan melanjutkan untuk menindak para pendukung Morsi. Pembantaian di Lapangan Rabaa berlangsung enam minggu kemudian, di mana hampir 1.000 demonstran terbunuh, yang mencetak rekor pembunuhan massal warga sipil terbesar dalam satu hari oleh pasukan keamanan dalam sejarah modern Mesir. Pada tahun-tahun sejak itu, rezim el-Sisi telah melarang semua bentuk protes, menutup media independen, memenjarakan puluhan ribu aktivis, dan bahkan terlibat dalam pembunuhan di luar proses hukum. Baca Artikel Selengkapnya di sini
  5. China selalu terancam oleh nilai-nilai eksternal—terutama Barat—seperti demokrasi dan nilai-nilai liberal lainnya. Tapi protes Hong Kong dalam dua minggu terakhir menunjukkan fakta bahwa tantangan terbesar bagi China sebenarnya bukan berasal dari Barat sama sekali, tetapi dari dalam China sendiri. Oleh: Howard W. French (World Politics Review) Pada dekade pertama setelah dimulainya reformasi ekonomi China dan negara itu mulai “membuka diri”—yang dimulai pada akhir tahun 1970-an—satu pertanyaan muncul di benak para kepala negara Barat dan banyak pengamat profesional China: Berapa lama waktu yang dibutuhkan—seiring produksi kapitalis dan konsumerisme mulai berlaku—untuk mengikuti bentuk hukum dan pemerintahan Barat? Pada saat Uni Soviet dibubarkan—pada tahun 1991—evolusi semacam ini dipandang tidak dapat dihindari, dan dengan penemuan internet yang hampir universal, sarana yang kuat untuk membantu mempercepat perubahan di China tampaknya sudah dekat. Bagi sebagian besar orang, hasilnya tidak diragukan lagi. Itu hanya masalah waktu. Hingga ketika Presiden Amerika Serikat (AS) Bill Clinton membantu mengantarkan China ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan bergabung pada tahun 2001, ia sangat bersyukur tentang perubahan yang tidak terhindarkan dari liberalisasi, sehingga akses mendapatkan informasi akan dinikmati masyarakat China. “Semoga beruntung dalam mencoba mengendalikan internet,” dia terkekeh. “Itu seperti mencoba memaku agar-agar ke dinding.” Namun, sejak awal perpindahan bersejarah China untuk menjadi negara ekonomi dengan pasar sosialis, mendiang Pemimpin China Deng Xiaoping dan para senior Partai Komunis sepenuhnya berjaga-jaga terhadap liberalisasi politik. Deng terkenal menggunakan perumpamaan sederhana tentang lalat yang tidak diinginkan yang memasuki rumah, ketika China membuka jendela untuk hal-hal yang dihargai di Barat: investasi, teknologi, keterampilan manajemen modern, dan pendidikan tinggi yang menopang mereka semua. Pada saat yang sama, Partai Komunis mempertahankan wacana internal yang berkelanjutan tentang perlunya menghindari apa yang disebutnya “sosialisasi” ke dalam nilai-nilai liberal Barat. Baca Artikel Selengkapnya di sini
  6. Perang tarif yang digencarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump bukanlah beban yang hanya ditanggung oleh China. Para importir sering membebankan biaya tarif kepada pelanggan―produsen dan konsumen di Amerika Serikat―dengan menaikkan harga mereka. Eksekutif bisnis dan ekonom AS mengatakan konsumen AS membayar sebagian besar perang tarif Trump. Oleh: Reuters Presiden AS Donald Trump mengatakan China yang menanggung tarif yang telah dikenakan pada ekspor China ke Amerika Serikat senilai $250 miliar. Tapi itu bukan cara kerja tarif. Pemerintah dan perusahaan China di China tidak menanggung tarif AS secara langsung. Tarif adalah pajak impor dan dibayar oleh perusahaan terdaftar AS ke bea cukai AS ketika barang masuk ke Amerika Serikat. Para importir sering membebankan biaya tarif kepada pelanggan―produsen dan konsumen di Amerika Serikat―dengan menaikkan harga mereka. Eksekutif bisnis dan ekonom AS mengatakan konsumen AS membayar sebagian besar tagihan tarif ini. Penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow mengatakan bahwa kedua belah pihak menderita dengan tarif. Tagihan tarif akan naik lebih tinggi jika Trump tidak dapat membuat kemajuan pada tuntutan AS untuk reformasi di China ketika ia bertemu dengan Presiden China Xi Jinping akhir bulan ini. Trump mengatakan dia akan mengenakan tarif pada barang yang diimpor dari China senilai $300 miliar yang belum dikenakan pajak impor. Itu termasuk produk-produk mulai dari ponsel hingga dot bayi, dan berarti hampir semua impor dari China akan dikenakan pajak impor 25 persen. PERUSAHAAN AS HADAPI NAIKNYA HARGA KONSUMEN Semakin banyak perusahaan AS telah memperingatkan tentang dampak negatif dari perang tarif Trump pada konsumen Amerika. Berbagai perusahaan minggu ini telah memberi tahu pejabat pemerintah pada sidang di Washington bahwa mereka memiliki beberapa alternatif selain China untuk memproduksi pakaian, elektronik, dan barang-barang konsumen lainnya. Mereka mengatakan alternatif akan lebih mahal, dan bahwa putaran tarif selanjutnya dapat menghapus keuntungan dan lapangan pekerjaan. Baca Artikel Selengkapnya di sini
  7. China Digital Times melaporkan bahwa pihak berwenang China telah memerintahkan media untuk menghapus video apa pun yang terkait dengan protes Hong Kong. Pihak berwenang China telah menggambarkan protes Hong Kong sebagai peristiwa kekerasan yang dipicu oleh unsur-unsur asing yang ingin melemahkan Hong Kong dan menghancurkan kebijakan “satu negara, dua sistem” China. Tetapi minat pada protes Hong Kong tetap tinggi di China meskipun ada larangan. Oleh: Robyn Dixon (Los Angeles Times) Ketika Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam menyampaikan permintaan maafnya yang terbaru pada Selasa (18/6) atas usahanya yang ceroboh untuk mendorong RUU ekstradisi yang kontroversial, para aktivis di China daratan sibuk mengunggah video pernyataan itu—lagi dan lagi dan lagi. Namun, sensor China dengan cepat menurunkan unggahan-unggahan itu. Penyensoran telah lama menjadi fakta kehidupan di China, di mana komentar yang menyampaikan perbedaan pendapat, aktivisme, atau kritik terhadap pihak berwenang segara dihapus dari internet, dan di mana akses ke banyak media Barat dan situs media sosial dilarang, dalam apa yang kadang-kadang disebut sebagai “Great Firewall of China.” Dalam beberapa hari terakhir, sensor juga telah bekerja keras untuk menghapus konten terkait protes Hong Kong, atau apa pun yang membangkitkan semangat mereka. Bahkan sebuah lagu yang dinyanyikan oleh para pengunjuk rasa selama demonstrasi tersebut, “Can You Hear the People Sing,” dari film musikal Les Miserables, telah dihapus dari QQ, salah satu situs streaming musik paling populer di China. China Digital Times—sebuah situs web yang berbasis di California yang memantau sensor China—melaporkan bahwa pihak berwenang China telah memerintahkan media untuk menghapus video apa pun yang terkait dengan protes Hong Kong. Istilah “Ayo Hong Kong” juga disensor. Seorang aktivis China daratan mengatakan kepada The Times bahwa ia tetap terjaga sepanjang malam setelah dua protes massa tersebut, berusaha untuk mendahului sensor dengan membagikan video dan foto di grup obrolan media sosial China daratan—hanya untuk melihatnya dengan cepat menghilang. Sebaliknya, pihak berwenang China telah menggambarkan protes Hong Kong sebagai peristiwa kekerasan yang dipicu oleh unsur-unsur asing yang ingin melemahkan Hong Kong dan menghancurkan kebijakan “satu negara, dua sistem” China, yang dimaksudkan untuk memastikan posisi Hong Kong sebagai pusat keuangan global dengan menjamin hak untuk kebebasan berbicara dan hak untuk protes. Hong Kong—bekas koloni Inggris—diserahkan kembali ke bawah kontrol China pada tahun 1997 setelah periode pemindahan yang berkepanjangan. Kesepakatan penyerahan tahun 1984 yang ditandatangani antara Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher dan Pemimpin China Deng Xiaoping saat itu, menghasilkan tradisi protes damai di Hong Kong. Baca Artikel Selengkapnya di sini
  8. Mohamed Morsi mewujudkan ketakutan terburuk para penguasa Mesir: jalan menuju demokrasi di negara itu. Dia tidak bisa dieksekusi secara terbuka dan alih-alih dibunuh secara perlahan. Morsi tidak sempurna, dan dia tidak radikal. Dia tidak memiliki kemauan atau cara untuk menyelesaikan semua hal yang membuat Mesir sakit, tetapi dia mewakili demokrasi yang muncul melawan tirani yang sudah berurat berakar. Oleh: Sam Hamad (TRT World) “Ini adalah kematian yang perlahan.” Itulah kata-kata yang digunakan untuk menggambarkan tahun-tahun terakhir Mohamed Morsi (atau Muhammad Mursi), presiden pertama Mesir, satu-satunya dan mungkin yang terakhir secara demokratis, oleh kawan Ikhwanul Musliminnya yang diasingkan, Muhammad Sudan. Selama enam tahun terakhir, Morsi telah menjalani kehidupan yang tidak layak untuk dijalani. Seperti kebanyakan tahanan politik yang dikurung di ruang bawah tanah Mesir, dalam hal ini, kompleks penjara Tora sangat tidak layak. Penjara itu dijuluki ‘Scorpion’ dan kondisi penahanannya bahkan tidak cocok untuk seekor binatang. Dalam salah satu permohonannya yang ditolak pengadilan untuk diperiksa dokter pada tahun 2015, Morsi, yang menderita diabetes parah, pernah dengan terkenal mengklaim bahwa memakan makanan yang diberikan kepadanya di penjara akan mengarah pada ‘kejahatan besar,’ yaitu kematiannya. Morsi tahu bahwa pihak berwenang, walaupun mungkin tidak cukup berani untuk langsung membunuhnya, puas untuk membuat hidupnya sesedih dan setersiksa mungkin. Ada beberapa laporan independen tentang tahun-tahun terakhir yang menyakitkan dalam hidup Mohamed Morsi, tetapi fokus utama seharusnya adalah mengapa presiden tersebut dipaksa untuk menanggung penganiayaan ini. Pertanyaan itu selamanya akan menjadi komponen utama dari biografi atau pemahaman retrospektif apa pun tentang kehidupan dan kematian Mohamed Morsi. DEMOKRASI YANG HANCUR Ironisnya, setelah digulingkannya rezim Mubarak dan kemudian demokrasi lahir, seharusnya bukan Morsi yang mencalonkan diri sebagai presiden untuk Freedom and Justice Party (FJP), sayap politik Ikhwanul Muslimin. Yang terpilih adalah seorang pengusaha vokal yang karismatik dan wakil pemandu tertinggi Ikhwanul Khairat el Shatar (dirinya saat ini berada di daftar tunggu hukuman mati di Mesir), tetapi Supreme Council of the Armed Forces (SCAF) melarangnya untuk mencalonkan diri, dan dengan demikian Morsi yang secara praktis tidak dikenal dipilih oleh FJP untuk mencalonkan diri sebagai presiden. Sebagian besar rakyat pro-demokrasi di Mesir tidak akan pernah melupakan momen ketika diumumkan bahwa Morsi telah mengalahkan kandidat kontra-revolusioner Ahmed Shafik. Kehebohan yang berasal dari seruan orang-orang yang berkumpul di Tahrir Square membuat siapapun merinding. Baca Artikel Selengkapnya di sini
  9. Mantan Presiden Mesir Mohamed Morsi meninggal hari ini, setelah mendekam di penjara sejak tahun 2013. Morsi adalah presiden Mesir pertama yang terpilih secara demokratis setelah pelengserang Hosni Mobarak. Dia kemudian digulingkan pada Juli 2013 menyusul protes massal dan kudeta militer yang dipimpin oleh Presiden Mesir saat ini Abdel Fattah el-Sisi, dan segera ditangkap. Oleh: Al Jazeera Mantan Presiden Mesir Mohamed Morsi telah meninggal setelah hadir di pengadilan di ibu kota, Kairo, menurut pihak berwenang. Jaksa penuntut umum mengatakan pria berusia 67 tahun itu ambruk di sel terdakwa di ruang sidang dan dinyatakan meninggal di rumah sakit sekitar pukul 16:50 waktu setempat pada hari Senin (17/6). Sebuah laporan medis tidak menunjukkan adanya luka baru-baru ini di tubuhnya, kata jaksa penuntut. “Morsi meninggal hari ini saat menghadiri sesi dalam persidangannya atas tuduhan spionase. Selama sesi itu, dia diberikan izin untuk berbicara kepada hakim,” kata seorang presenter televisi pemerintah Mesir. “Setelah sidang ditunda, mantan presiden pingsan dan kemudian meninggal. Jenazahnya dibawa ke rumah sakit.” Putra mantan presiden, Abdullah Mohamed Morsi, mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa keluarganya tidak mengetahui lokasi jenazahnya. Dia menambahkan bahwa pihak berwenang menolak untuk mengizinkan Morsi dimakamkan di pemakaman keluarganya. Morsi memiliki sejarah masalah kesehatan, termasuk diabetes dan penyakit hati dan ginjal. Dia menderita kelalaian medis selama dipenjara, diperparah oleh kondisi yang buruk di penjara. Ada berbagai laporan selama bertahun-tahun bahwa Morsi telah dianiaya dan disiksa di penjara, dengan para aktivis mengatakan pada hari Senin (17/6) bahwa kematiannya harus dilihat dalam konteks isolasi sistematis pemerintah Mesir dan penganiayaan tahanan politik. Human Rights Watch menyebut berita kematian Morsi “mengerikan” tetapi “sepenuhnya dapat diprediksi”, mengutip “kegagalan pemerintah untuk memberinya perawatan medis yang memadai”. “Pemerintah Mesir hari ini memikul tanggung jawab atas kematiannya, mengingat kegagalan mereka untuk menyediakan perawatan medis yang memadai atau hak-hak dasar tahanan,” kata kelompok itu dalam sebuah pernyataan kepada Al Jazeera. Baca Artikel Selengkapnya di sini
  10. Seorang fotografer The Washington Post berhasil mengabadikan isi surat kesepakatan rahasia Trump-Meksiko. Berdasarkan informasi seadanya dari foto tersebut, berikut analisis mengenai apa yang mungkin ditetapkan dalam kesepakatan rahasia itu dan apa maknanya. Oleh: Aaron Blake (The Washington Post) Presiden Trump telah mengklaim selama dua hari, bahwa ia mendapatkan kesepakatan imigrasi rahasia dengan Meksiko—di luar yang diumumkan pada Jumat (7/6). Namun Gedung Putih menolak untuk mengungkapkan rinciannya, dan Meksiko membantahnya. Dihadapkan dengan keraguan yang dapat dimengerti apakah kesepakatan semacam itu ada, Trump mengeluarkan selembar kertas yang terlipat dari saku dadanya pada Selasa (11/6). Dan seorang fotografer yang sangat handal, Jabin Botsford dari The Washington Post, mengambil gambar yang mengungkapkan beberapa isi dokumen tersebut. Gambar itu memungkinkan kita untuk mengumpulkan beberapa petunjuk. Inilah gambar tersebut, yang dibalik oleh Botsford agar mudah dibaca: Baca Artikel Selengkapnya di sini
  11. Dunia dibuat ngeri dengan pembantaian yang terjadi, setelah meluasnya demonstasi di Sudan. Demonstrasi ini menyusul turunnya Presiden Sudan Omar al-Bashir, dan masyarakat Sudan menuntut kepemimpinan transisi yang dipimpin sipil serta pemilu yang demokratis. Ratusan orang tewas seiring prajurit dan kelompok paramiliter pada awal bulan ini menembaki para demonstran pro-demokrasi. Berikut yang perlu kita tahu tentang apa yang terjadi di Sudan. Oleh: Leah Asmelash dan Faith Karimi (CNN) Apa yang dimulai sebagai protes terhadap Presiden otoriter di Sudan berubah menjadi kegembiraan dan perayaan di jalan-jalan tahun ini, setelah ia digulingkan. Tapi alih-alih awal baru yang didambakan para pengunjuk rasa, bulan-bulan kekacauan dan pertumpahan darah telah menyusul dan mendominasi liputan berita di seluruh dunia. Bagaimana salah satu negara terbesar di Afrika beralih dari berakhirnya pemerintahan brutal selama 30 tahun menjadi tindakan keras jalanan yang mematikan? Inilah beberapa jawabannya. BAGAIMANA SEMUA INI DIMULAI? Semuanya dimulai pada bulan Desember dengan pemberontakan Sudan. Demonstrasi dimulai sebagai protes terhadap meningkatnya biaya pangan dan kekurangan bahan bakar, tetapi itu berubah menjadi protes melawan Presiden Sudan Omar al-Bashir. Gerakan ini dimulai dengan nada optimis, di mana para wanita di negara itu menjadi pusat demonstrasi, dan gambar ikonik mereka menentang kebrutalan polisi tersebar secara luas. MENGAPA MEREKA INGIN OMAR AL-BASHIR TURUN? Warisan Bashir adalah penderitaan manusia dan kekejaman. Dia mengambil alih sebagai Presiden Sudan pada tahun 1989, setelah dia memimpin kudeta yang menggulingkan pemerintah sebelumnya. Meskipun secara teknis dia telah terpilih kembali beberapa kali, namun kelompok-kelompok hak asasi manusia mengatakan bahwa pemilu itu tidak demokratis. Bashir tidak dikenal sebagai pemimpin yang baik hati. Diperkirakan lebih dari 15.000 penduduk desa terbunuh oleh milisi Janjaweed yang didukung pemerintah, antara awal tahun 2003 dan akhir tahun 2004 di Darfur, dan jutaan orang Sudan mengungsi. Milisi Janjaweed juga dituduh memperkosa wanita di Darfur, dan pemerintah dituduh menggunakan senjata kimia terhadap masyarakat. Baca Artikel Selengkapnya di sini
  12. Pada Minggu (9/6), rakyat Hong Kong turun ke jalan untuk menolak RUU ekstradisi, yang akan mengirim para pelanggar hukum ke daratan China untuk diadili. Polisi dan petugas keamanan pun menembakkan gas air mata, semprotan merica, dan peluru karet ke kerumunan massa. Berikut beberapa potret kerusuhan di Hong Kong untuk menolak RUU tersebut. Oleh: Mata Mata Politik Lebih dari satu juta orang di Hong Kong turun ke jalan pada Minggu (9/6) untuk menolak RUU ekstradisi ke China. Protes ini menjadi salah satu protes terbesar di Hong Kong selama 30 tahun. Pada Rabu (12/6), rakyat Hong Kong kembali turun ke jalan dan mengelilingi gedung legislatif. RUU ekstradisi itu akan memungkinan para kritikus atau aktivis untuk diekstradisi ke daratan China dan patuh terhadap ‘sistem keadilan’ di China, sehingga mengurangi independensi hukum Hong Kong. Berikut beberapa potret kerusuhan di Hong Kong, di mana masyarakat Hong Kong menuntut kebebasan dan independensi hukum wilayahnya dari daratan China. Baca Artikel Selengkapnya di sini
  13. Jika pemerintahan Trump berhasil menggunakan daftar hitam untuk mencegah Huawei terlibat dengan negara-negara sekutu kunci AS, Huawei mungkin akan menjadi lebih tergantung pada pasar lain untuk memasarkan produk dan layanannya. Di Afrika, kebutuhan konektivitas dasar dan harga yang lebih rendah mungkin jauh lebih penting daripada risiko masalah keamanan yang dipaparkan oleh Huawei. Huawei juga telah menandatangani kontrak untuk jaringan 5G komersial pertama Afrika Selatan, satu-satunya perjanjian 5G resmi di benua Afrika hingga saat ini. Oleh: Jordan Link (The Washington Post) Sorotan baru-baru ini terhadap Huawei, perusahaan teknologi terbesar ketujuh di dunia, akan menjadi bencana hubungan masyarakat bagi perusahaan mana pun. Awal tahun 2019, Departemen Kehakiman Amerika Serikat mendakwa Meng Wanzhou, kepala keuangan raksasa teknologi China itu, dengan tuduhan telah menipu beberapa lembaga keuangan karena melanggar sanksi yang dikenakan AS terhadap Iran. Dakwaan kedua mengklaim Huawei memiliki sistem hadiah yang memberikan penghargaan kepada karyawan di luar negeri jika terlibat dalam spionase industri. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani perintah eksekutif tanggal 15 Mei 2019 untuk melarang berbagai perusahaan telekomunikasi AS memasang peralatan asing yang berpotensi mengancam keamanan nasional. Pemerintah Amerika kemudian menambahkan Huawei ke Daftar Entitas Departemen Perdagangan, daftar hitam yang secara efektif membatasi kemampuan perusahaan itu untuk membeli perangkat keras, perangkat lunak, dan layanan lainnya dari pemasok AS, yang mengancam operasi global Huawei. Dengan meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan China, hanya ada sedikit analisis tentang sejauh mana jangkauan global Huawei. Tahun 2018, Huawei membukukan pendapatan tahunan tertinggi sebesar US$105,2 miliar, naik 20 persen dari pendapatan tahun 2017. Menurut laporan tahunan 2018 Huawei, persentase terbesar yakni 24,3 persen dari pendapatan di luar China berasal dari Eropa, Timur Tengah, dan Afrika, sekitar $25,6 miliar. SEBERAPA BESAR KEHADIRAN HUAWEI DI AFRIKA? Sejumlah laporan memperkirakan bahwa Huawei telah membangun sekitar 70 persen jaringan 4G Afrika. Perusahaan itu juga telah menandatangani kontrak untuk jaringan 5G komersial pertama Afrika Selatan, satu-satunya perjanjian 5G resmi di benua Afrika hingga saat ini. Baca juga: Beberapa Raksasa Teknologi Hentikan Akses Karyawannya ke Huawei Mengingat kontroversi baru-baru ini dan potensi perjuangan antara Amerika Serikat, negara-negara sekutunya, dan perusahaan China itu mengenai teknologi 5G, berikut ini tiga hal yang perlu diketahui tentang operasi Huawei di Afrika: Pemerintah China mendukung beberapa kontrak Huawei di Afrika The China-Africa Research Initiative (CARI), sebuah think tank di Johns Hopkins School of Advanced International Studies di Washington, Amerika Serikat telah meneliti dengan cermat kegiatan Huawei di Afrika. Sebagaimana yang diperinci oleh June Sun, mantan rekan peneliti SAIS-CARI, aktivitas Huawei di Afrika memiliki dukungan dari pemerintah negara China, memungkinkan perusahaan “untuk menawarkan paket yang lebih menarik karena akses mereka ke pendanaan melalui China Eximbank.” Berkat dukungan pemerintah China, Huawei telah mampu memasuki pasar Afrika dengan harga bersubsidi yang dengan mudah mengalahkan para pesaing. Baca Artikel Selengkapnya di sini
  14. Kim Jong Nam, yang terbunuh dalam serangan tahun 2017 di Malaysia, bertemu dengan para agen operatif, menurut seseorang yang mengetahui masalah tersebut. Kabar tentang hubungan CIA dengan Kim Jong Nam muncul ketika diplomasi nuklir antara Amerika Serikat dan Korea Utara terhenti, menyusul pertemuan puncak bulan Februari 2019 di Hanoi, Vietnam antara Kim Jong-un dan Presiden AS Donald Trump yang berakhir tanpa kesepakatan. CIA telah lama memiliki kepentingan intensif di Korea Utara, meskipun budaya totaliternya dan kurangnya kedutaan AS di sana menjadikannya salah satu target tersulit. Oleh: Warren P. Strobel (The Wall Street Journal) Kim Jong Nam, saudara tiri pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan yang telah terbunuh tahun 2017, dilaporkan merupakan sumber intelijen Central Intelligence Agency (CIA) yang bertemu beberapa kali dengan para agen operatif, menurut seseorang yang mengetahui masalah tersebut. Menurut orang itu, terdapat keterkaitan antara agen mata-mata Amerika Serikat dan Kim Jong Nam. Kim Jong Nam, saudara tiri pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, terbunuh di Bandara Internasional Kuala Lumpur di Malaysia bulan Februari 2017, ketika dua wanita mengolesi wajahnya dengan agen saraf VX. Para pejabat Amerika Serikat dan Korea Selatan menuduh serangan tersebut dilakukan oleh Korea Utara, yang kemudian telah dibantah Korut. Banyak detail hubungan Kim Jong Nam dengan CIA hingga kini masih belum jelas. Kim Jong Nam telah tinggal di luar Korea Utara selama bertahun-tahun dan tidak diketahui memiliki basis kekuatan di Korut. Sejumlah mantan pejabat Amerika Serikat mengatakan bahwa saudara tiri Kim Jong-un tersebut tidak mungkin dapat memberikan rincian tentang pekerjaan dalam negeri rahasia negara itu. Mereka juga mengatakan bahwa Kim Jong Nam, yang tinggal terutama di wilayah kantong China di Makau, hampir pasti berhubungan dengan layanan keamanan negara lain, terutama China. CIA hingga kini masih menolak berkomentar. Para pejabat China juga belum menanggapi permintaan komentar. Fakta bahwa CIA mengadakan pertemuan dengan saudara tiri yang diasingkan oleh pemimpin Korea Utara tersebut menggambarkan jangkauan upaya intelijen AS untuk mengumpulkan informasi tentang negara yang tertutup itu. Terdapat spekulasi di antara mantan pejabat dan analis Amerika Serikat bahwa negara-negara di luar, termasuk China, memandang Kim Jong Nam sebagai penerus yang mungkin bagi Kim Jong-un jika kepemimpinannya Kim Jong-un berada dalam bahaya. Namun, badan-badan intelijen AS menyimpulkan bahwa Kim Jong Nam tidak cocok untuk mengisi peran semacam itu, menurut beberapa mantan pejabat Amerika. Kabar tentang hubungan CIA dengan Kim Jong Nam muncul ketika diplomasi nuklir antara Amerika Serikat dan Korea Utara terhenti, menyusul pertemuan puncak bulan Februari 2019 di Hanoi, Vietnam antara Kim Jong-un dan Presiden AS Donald Trump yang berakhir tanpa kesepakatan. Pejabat intelijen Amerika Serikat pada awalnya merasa lega bahwa interaksi CIA dengan Kim Jong Nam tidak segera terungkap setelah pembunuhannya, menurut orang yang mengetahui situasi tersebut. Tetapi tiga bulan setelah kematiannya, bulan Mei 2017, surat kabar Jepang Asahi Shimbun melaporkan bahwa sementara berada di Malaysia, Kim Jong Nam bertemu dengan seorang Korea-Amerika yang diduga oleh pejabat Malaysia merupakan seorang petugas intelijen AS. Peran Kim Jong Nam sebagai sumber CIA juga dijelaskan dalam sebuah buku tentang Kim Jong-un, The Great Successor, yang ditulis oleh reporter The Washington Post dan akan diterbitkan pada hari Selasa (11/6), menurut laporan berita mengutip kutipan dari buku tersebut. The Wall Street Journal hingga kini belum melihat salinan buku itu. Baca Artikel Selengkapnya di sini
  15. Daripada jebakan hutang, Inisiatif Sabuk dan Jalan sebenarnya lebih tepat dianggap sebagai kesalahan China. Sebuah laporan Rhodium Group yang dirilis pada bulan April menemukan ada 40 negosiasi ulang hutang China dengan 24 negara, sebagian besar terjadi sejak tahun 2007. Bersama-sama mereka mewakili sekitar $50 milyar hutang yang dinegosiasi ulang, termasuk penghapusan, penangguhan dan pembiayaan kembali. Oleh: Gerard Gayou (Wall Street Journal) Para diplomat Barat menganggap Inisiatif Sabuk dan Jalan China sebagai “jebakan utang” yang menjerat negara-negara berkembang dengan persyaratan pinjaman yang bersifat predator untuk proyek-proyek yang meragukan. Tetapi inisiatif ini lebih baik dipahami sebagai kesalahan China. Tipu daya semacam itu akan merusak ekonomi China serta pencariannya untuk pengaruh global. Keasyikannya dengan “diplomasi jebakan utang” bisa dimengerti. Pakistan, Maladewa, dan Tajikistan memiliki sedikit kesamaan di luar defisit anggaran yang membengkak berkat pinjaman China sehubungan dengan Inisiatif Sabuk dan Jalan. Islamabad memproyeksikan akan berutang $40 miliar kepada China selama dua dekade mendatang. Maladewa telah mengambil utang $3 miliar dari China—lebih dari setengah PDB Maladewa. Menurut Pusat Pengembangan Global, kredit China menyumbang 80 persen dari peningkatan utang luar negeri Tajikistan dari 2007-16. Kadang-kadang, negara miskin kehilangan aset besar untuk membayar utangnya. Ketika Sri Lanka tidak dapat membayar kembali pinjaman China untuk membangun pelabuhan Hambantota, sebuah perusahaan China melakukan sewa 99 tahun di pelabuhan Samudra Hindia yang strategis itu. Namun hal seperti itu tidak dalam kepentingan keuangan China, dan bukti baru menunjukkan China memiliki preferensi yang kuat untuk negosiasi ulang utang ketika negara-negara mitra terancam tak bisa membayar. Sebuah laporan Rhodium Group yang dirilis pada bulan April menemukan ada 40 negosiasi ulang hutang China dengan 24 negara, sebagian besar terjadi sejak tahun 2007. Bersama-sama mereka mewakili sekitar $50 milyar hutang yang dinegosiasi ulang, termasuk penghapusan, penangguhan dan pembiayaan kembali. Pengampunan hutang jarang terjadi untuk proyek-proyek yang lebih mahal, tetapi begitu juga penyitaan aset: Para peneliti hanya mengidentifikasi satu contoh selain pelabuhan Sri Lanka. Baca Artikel Selengkapnya di sini
  16. Kedatangan China di kawasan Pasifik dengan tujuan ekonomi, diplomatik, dan keamanan yang jelas telah mengubah daerah terpencil itu menjadi garis depan strategis dalam kontes multi-negara mendapatkan kekuasaan dan pengaruh di Asia. Sejak Perang Dunia Kedua, pulau-pulau tersebut secara informal dibagi menjadi wilayah-wilayah yang berada di bawah sayap pengaruh AS, Australia, Selandia Baru, dan Prancis. Jangkauan China ke Kepulauan Pasifik ini dimulai pada awal tahun 2000-an ketika China meluncurkan “serangan pesona” yang didukung dengan kucuran dana. Ini pada awalnya bertujuan untuk memikat negara-negara yang masih memiliki hubungan diplomatik dengan Taiwan untuk berpindah ke sisi China. Oleh: Jonathan Manthrorpe (Asia Times) Setelah beberapa dekade menjadi daerah terpencil yang tidak terlalu dianggap, Kepulauan Pasifik Selatan telah menjadi garis depan yang strategis dalam kontes multi-negara untuk mendapatkan kekuasaan dan pengaruh di Asia. Untuk pertama kali dalam 18 tahun sejarahnya, konferensi keamanan regional akhir pekan lalu di Institut Internasional untuk Studi Strategis Singapura termasuk sesi yang membahas kompetisi strategis di Pasifik Selatan. Apa yang telah berubah, pada dasarnya, adalah kedatangan China di kawasan itu dengan tujuan ekonomi, diplomatik, dan keamanan yang jelas. Wilayah itu juga dianggap Amerika Serikat sebagai wilayah yang sangat penting bagi kepentingan nasionalnya sendiri. Dan pemain regional yang lebih kecil seperti Jepang, Australia, Selandia Baru dan bahkan India telah membuat langkah untuk melindungi dan meningkatkan kepentingan mereka sendiri. PERSAINGAN STRATEGIS Yang menjadi fokus kompetisi strategis adalah sesuatu yang belum pernah dialami Kepulauan Pasifik Selatan sejak Perang Dunia Kedua, ketika kawasan itu berada di garis depan kampanye Sekutu Pasifik untuk mengalahkan Jepang. Seperti biasa, perhatian dari luar adalah keuntungan sekaligus kerugian untuk 3,2 juta orang yang tinggal di 16 negara pulau yang merupakan pusat dari kompleks Kepulauan Pasifik Selatan. Mereka adalah Kepulauan Cook, Fiji, Polinesia Prancis, Kiribati, Kepulauan Marshall, Mikronesia, Nauru, Kaledonia Baru, Niue, Palau, Samoa, Kepulauan Solomon, Tokelau, Tonga, Tuvalu, dan Vanuatu. Dalam konteks yang lebih luas, Australia, Selandia Baru, dan Papua Nugini juga merupakan anggota penuh Forum Kepulauan Pasifik, yang bertujuan untuk meningkatkan kerja sama regional. Baca Artikel Selengkapnya di sini
  17. Masyarakat di dunia Arab tidak akan menerima ‘kesepakatan abad ini’, dan segala upaya untuk memaksakan kesepakatan itu akan berakhir dengan bencana. Dunia Arab akan menolak rencana perdamaian AS itu—yang lebih mendorong sektor ekonomi dan pembangunan daripada masalah inti konflik seperti perbatasan, hak-hak rakyat Palestina, dan pendudukan Israel—maka dari itu, kita harus mewaspadai kemarahan masyarakat di dunia Arab. Oleh: Ramzy Baroud (Al Jazeera) Seiring pengumuman ‘kesepakatan abad ini’ semakin dekat, dunia Arab semakin tegang. Desas-desus yang tersebar luas tentang isi proposal tersebut telah memicu kemarahan publik di seluruh kawasan ini. Pada saat ini, sangat jelas bahwa kesepakatan abad ini bukanlah rencana perdamaian, juga tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi rencana perdamaian, terlepas dari apa yang dikatakan oleh perancang utama kesepakatan itu dan penasihat Gedung Putih Jared Kushner. Ini adalah upaya imperial Amerika yang didorong oleh gagasan sesat, bahwa demi kepentingan rakyat Amerika, Israel harus menjadi negara penguasa regional dan dapat menguasai sisa wilayah Palestina yang diduduki. Ini adalah kesepakatan yang bertujuan untuk memecah dan melemahkan dunia Arab sekali lagi. Namun, jika kesepakatan itu gagal, itu kemungkinan akan memicu kemarahan rakyat dan membahayakan kelangsungan hidup rezim-rezim Arab. PENTINGNYA PALESTINA BAGI DUNIA ARAB Sejak dekade awal abad ke-20, Palestina telah berfungsi sebagai masalah bersama bagi semua orang Arab, serta menjadi alasan untuk perjuangan kolektif mereka dan seruan untuk menentang kolonialisme Barat dan cabang utamanya, gerakan Zionis. Tidak seperti kebanyakan negara Arab yang memperoleh kemerdekaannya pada pertengahan abad ke-20, Palestina tetap menjadi tawanan pasukan kolonial yang telah menaklukkan masyarakat Arab selama beberapa dekade. Penderitaan warga Palestina di bawah kolonialisme dan pendudukan Zionis terus menjadi luka bagi dunia Arab dan pengingat menyakitkan mengenai kegagalan kolektif untuk menyingkirkan dominasi Barat di wilayah tersebut. Kebebasan dari kolonialisme Barat tidak akan pernah benar-benar tercapai selama Palestina terus mengalami kekerasan sehari-hari, pengepungan yang berlarut-larut, dan pendudukan militer. Meskipun mayoritas orang Arab saat ini tidak ingat perang dan pendudukan tahun 1967—apalagi perang tahun 1948 dan Nakba—namun mereka tetap sangat sadar dan peka terhadap penderitaan rakyat Palestina karena dua alasan. Satu, “tahrir falasteen“—pembebasan Palestina—telah menjadi elemen inti dari identitas dan aspirasi politik Arab modern; dan, dua, karena ketidakadilan Israel yang sedang berlangsung, shata—diaspora—warga Palestina yang tak henti-hentinya, dan perlawanan Palestina yang gigih, telah menjadikan Palestina sebagai pusat motivasi politik kolektif dunia Arab. Menyadari pentingnya Palestina bagi masyarakat Arab, para penguasa Arab telah menggunakan dan menyalahgunakan perjuangan Palestina untuk mencapai tingkat validasi politik, seiring rezim mereka tidak memiliki legitimasi demokratis. Karena itu, sejak Israel didirikan di atas reruntuhan tanah air Palestina pada tahun 1948, membebaskan Palestina menjadi ‘mantra’ yang banyak digunakan oleh rezim-rezim Arab bahkan ketika mereka berkonspirasi dengan kekuatan kolonial untuk melawan Palestina. Baca Artikel Selengkapnya di sini
  18. Bagi Arab Saudi dan Iran, keuntungan menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Irak jauh melebihi uang yang dihasilkan dari peningkatan perdagangan. Walaupun kedua belah pihak membuat poin yang menarik, faktanya adalah bahwa Irak sangat senang menduduki jalan tengah, secara geopolitik dan ekonomi, antara kedua kekuatan regional. Untuk Irak, sangat penting untuk mempertahankan jalan tengah. Sederhananya, Irak terlalu banyak kehilangan dengan memilih antara kedua negara. Oleh: Kevin Newton (Middle East Institute) Selama beberapa bulan terakhir, hubungan yang canggung telah terjalin antara Irak dan dua tetangganya yang paling terpolarisasi, seiring Iran dan Arab Saudi berupaya meyakinkan Irak tentang manfaat dari orbit masing-masing. Walaupun kedua belah pihak membuat poin yang menarik, faktanya adalah bahwa Irak sangat senang menduduki jalan tengah, secara geopolitik dan ekonomi, antara kedua kekuatan regional. Bahkan, melakukan hal itu mungkin merupakan peluang terbaik untuk memunculkan rasa kohesi di negara ini. Terlebih lagi, mengingat peristiwa baru-baru ini di Teluk Persia, Irak mungkin menawarkan salah satu dari beberapa hubungan yang stabil di wilayah tersebut. PENAWARAN YANG BERSAING Arab Saudi sangat gigih dalam keinginannya untuk menjalin hubungan lebih dekat dengan Irak. Selama lebih dari satu dekade, kerajaan itu telah berupaya mengubah hubungannya dengan tetangga utaranya tersebut. Dalam upaya mereka, Saudi dapat membangun oposisi vokal mereka terhadap invasi pimpinan AS tahun 2003, dan mereka memiliki banyak hal untuk ditawarkan. Selain pinjaman senilai satu miliar dolar dan bantuan lainnya, mereka telah berjanji untuk menghabiskan hampir $500 juta untuk meningkatkan perdagangan antara kedua negara. Arab Saudi baru-baru ini membuka konsulat di Bagdad, yang mengizinkan warga Irak untuk mengajukan visa di Irak alih-alih mengunjungi Amman di Yordania, dan Saudi telah berjanji untuk membuka tiga konsulat lagi dalam beberapa bulan mendatang. Irak sangat ingin mensahkan tawaran itu, dengan Perdana Menteri Adel Abdul-Mahdi baru-baru ini mengunjungi Riyadh untuk diskusi dengan Putra Mahkota Saudi Mohammad bin Salman. Itu bukan berarti bahwa Iran akan kalah. Iran telah berjuang keras untuk mempertahankan hubungan ekonomi yang erat dengan Irak, meskipun ada dampak sanksi AS terhadap ekonominya. Sebagian besar dari hubungan ini telah melalui perjanjian perdagangan yang saling menguntungkan; perdagangan saat ini antara kedua kekuatan tersebut bernilai hampir $12 miliar per tahun, dan Irak dan Iran bertujuan untuk meningkatkan itu menjadi lebih dari $20 miliar. Untuk melakukan ini, Iran telah berfokus pada membangun ikatan yang lebih komersial, alih-alih ikatan resmi. Sebuah kereta api baru yang menghubungkan Iran selatan dengan kota Basra di Irak sedang dalam pengerjaan, sementara pembangunan jalur untuk menghubungkan pelabuhan-pelabuhan pantai Suriah ke Baghdad dan Teheran akan segera dilanjutkan setelah perang saudara bertahun-tahun. Ini terjadi pada saat yang kritis bagi Iran, karena langkah terbaru Amerika Serikat mengenai Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan pengabaian sanksi atas pembelian minyak mentah Iran berarti sangat penting bagi Iran untuk menjaga teman-temannya tetap dekat. Iran takut kemungkinan dikekang oleh kekuatan lawan, dan Iran akan meningkatkan pengaruhnya di Baghdad untuk memastikan hal itu tidak terjadi. Hubungannya jauh dari satu sisi: Irak tampaknya berkomitmen untuk mempertahankan hubungan juga dan telah berusaha untuk meningkatkan pembelian energi dari Iran selama sebulan terakhir. Baca Artikel Selengkapnya di sini
  19. Mantan Ibu Negara dan istri mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ani Yudhoyono, masih berjuang melawan sakitnya di National University Hospital (NUH) Singapura, dan saat ini tengah dirawat di ruang ICU. Agus Harimurti Yudhoyono mengatakan bahwa ibunya dirawat di ruang karantina khusus di NUH untuk menghindari infeksi virus dan bakteri, yang berpotensi mengganggu pemulihannya. Oleh: Francis Chan (The Straits Times) Kesehatan istri mantan Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) semakin memburuk pada Rabu (29/5). Ani Yudhoyono (66 tahun), berada di unit perawatan intensif (ICU) di National University Hospital (NUH) di Singapura, kata putranya Agus Harimurti Yudhoyono pada Kamis (30/5). Dia mengatakan bahwa ibunya telah mencari pengobatan untuk leukemia di rumah sakit tersebut sejak Februari tahun ini. “Untuk saat ini, Ibu Ani membutuhkan perawatan ekstra,” kata Agus. “Seluruh keluarga Yudhoyono sekarang memusatkan upaya kami untuk memulihkan kondisi kesehatan Ibu Ani.” Agus mengatakan bahwa ibunya—yang nama gadisnya adalah Kristiani Herrawati—dirawat di ruang karantina khusus di NUH untuk menghindari infeksi virus dan bakteri, yang berpotensi mengganggu pemulihannya. Baca Artikel Selengkapnya di sini
  20. Human Rights Watch (HRW) menuntut pihak berwenang untuk melakukan penyelidikan terhadap penggunaan kekuatan oleh polisi selama aksi 22 Mei lalu, yang menewaskan delapan orang dan melukai ratusan lainnya. HRW mengatakan bahwa pihak berwenang harus menyelidiki apakah taktik polisi itu diperlukan dan proporsional, dan meminta pertanggungjawaban petugas atas penggunaan kekuatan yang berlebihan. Kapolri Tito Karnavian mengatakan bahwa ada pihak-pihak yang menggunakan senjata selama kerusuhan dalam upaya untuk memprovokasi, untuk menciptakan martir, menyalahkan pihak berwenang, dan menimbulkan kemarahan publik. Oleh: Human Rights Watch Pemerintah Indonesia harus memastikan penyelidikan yang cepat, efektif, dan independen terhadap kekerasan di Jakarta pada 21-23 Mei 2019, di mana lebih dari 700 orang terluka dan 8 terbunuh, kata Human Rights Watch (HRW). “Pihak berwenang Indonesia harus menyelidiki penggunaan kekuatan oleh polisi selama protes ini dan memastikan bahwa setiap petugas polisi yang menggunakan kekuatan berlebihan akan bertanggung jawab,” kata Elaine Pearson. Protes dimulai pada 21 Mei 2019 setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah memenangkan pemilu presiden dengan 55,5 persen suara, melawan pemimpin oposisi, Prabowo S. Djojohadikusumo, dengan 44,5 persen suara. Prabowo tidak mengakui kekalahan, menyebut pemilu tersebut curang, dan mendorong para pendukungnya untuk memprotes hasil pemilu. Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Indonesia menyebut pemungutan suara pada 17 April 2019 sebagai “pemilu yang sukses, bebas, dan adil.” Protes dimulai di luar kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Indonesia di ruas jalan utama Jakarta, di mana para pendukung oposisi memprotes keputusan lembaga tersebut bahwa pemilu itu bebas dan adil. Kekerasan pecah malam itu ketika para pengunjuk rasa mendobrak kawat berduri di sekitar gedung Bawaslu. Kelompok lain berkumpul di daerah Petamburan, dekat markas Front Pembela Islam (FPI)—sebuah kelompok Islam militan. Para perusuh ini melemparkan batu dan menyalakan api di luar asrama polisi pada pukul 11 malam. Rekaman video menunjukkan polisi yang meminta pengunjuk rasa untuk berhenti, tetapi mereka menolak dan meminta Presiden Jokowi untuk mundur. Baca Artikel Selengkapnya di sini
  21. Bukan hanya masyarakat yang menyambut baik MRT pertama di Indonesia, tapi para analis juga berpendapat bahwa itu akan merevitalisasi pasar properti di Jakarta. Kereta bawah tanah ini diharapkan dapat membantu mengangkat harga sewa dan hunian kantor di kawasan pusat bisnis Jakarta. Oleh: Cheryl Arcibal (South China Morning Post) Bagi Clara Rimba—seorang istri pendeta berusia 35 tahun di Tangerang, di pinggiran barat Jakarta—terjebak dalam kemacetan lalu lintas di Jakarta adalah hal biasa. Jadi ketika Mass Rapid Transit (MRT atau Moda Raya Terpadu) Jakarta mulai beroperasi pada bulan Maret, ia senang, mengetahui bahwa itu akan memudahkan perjalanannya untuk menghadiri pertemuan doa. “Kemacetan terburuk yang saya alami adalah macet selama enam jam, jadi kereta baru ini akan sangat baik dan akan membantu penumpang memiliki perjalanan yang lebih cepat dan lebih nyaman,” kata Rimba. Dina Sasti Damayanti (43 tahun), dan seorang analis media di penyedia intelijen pasar Indonesia Indicator, mengatakan bahwa MRT telah menjadi pilihan transportasi utama bagi penduduk Jakarta, terutama bagi mereka yang tinggal di pinggiran kota. Jakarta—seperti beberapa kota lain di Asia Tenggara—terkenal dengan kemacetannya, di mana masyarakat diperkirakan menghabiskan 63 jam dalam setahun (atau lebih dari dua setengah hari) terjebak dalam kemacetan lalu lintas. Rute MRT memiliki panjang 15,7 kilometer dari Lebak Bulus—daerah pemukiman padat di pinggiran selatan—ke kawasan pusat kota bisnis. Jalur ini pada akhirnya akan terhubung dengan Light Rail Transit yang sedang dibangun. Sisa jaringan MRT diharapkan akan selesai pada tahun 2024. Bukan hanya masyarakat yang menyambut baik kereta bawah tanah ini, tapi para analis juga berpendapat bahwa itu akan merevitalisasi pasar properti di Jakarta, terutama segmen kantor. Konsultan properti Cushman & Wakefield mengatakan bahwa MRT telah memangkas perjalanan bagi para pekerja kantor di kawasan pusat bisnis menjadi lima menit dari sebelumnya 25 hingga 30 menit. “MRT Jakarta kemungkinan akan meningkatkan permintaan untuk kantor dan kondominium dengan akses langsung atau nyaman… dan juga cenderung meningkatkan kunjungan ke pusat perbelanjaan dengan konektivitas yang baik,” kata James Taylor, kepala penelitian di JLL di Indonesia. Tapi dia cepat-cepat menambahkan bahwa belum ada kenaikan sewa atau kenaikan harga yang nyata karena MRT. Baca Artikel Selengkapnya di sini
  22. China memiliki strategi perang dagang baru: melarang ekspor mineral tanah jarang ke AS. China adalah pemasok mineral tanah jarang terbesar di dunia—menyumbang 90 persen dari produksi global—dan AS bergantung pada China untuk 80 persen dari impor tanah jarangnya. Tanah jarang ditemukan dalam produk-produk seperti baterai, telepon pintar, mobil listrik, dan jet tempur. Mineral tersebut digunakan dalam jumlah kecil tetapi dapat sangat penting dalam proses manufaktur. Oleh: Alexandra Ma (Business Insider US) China dengan jelas mengisyaratkan bahwa mereka mungkin membatasi ekspor mineral tanah jarang ke Amerika Serikat (AS) sebagai strategi dalam perang dagang—suatu langkah yang dapat melumpuhkan industri teknologi, pertahanan, dan manufaktur Amerika. Mineral tanah jarang—yang terdiri dari 17 elemen pada tabel periodik—adalah salah satu ekspor China paling penting ke AS, seiring material ini ditemukan dalam produk-produk seperti baterai, telepon pintar, mobil listrik, dan jet tempur. Mineral tersebut digunakan dalam jumlah kecil tetapi dapat sangat penting dalam proses manufaktur. China adalah pemasok mineral tanah jarang terbesar di dunia—menyumbang 90 persen dari produksi global—dan AS bergantung pada China untuk 80 persen dari impor tanah jarangnya, menurut Bloomberg. Ada spekulasi bahwa Beijing akan memanfaatkan tanah jarang sebagai senjata dalam perang dagangnya dengan Washington sejak pekan lalu, ketika Presiden China Xi Jinping dan penasihat ekonomi utamanya, Wakil Perdana Menteri Liu He, melakukan kunjungan yang sangat dipublikasikan ke sebuah pabrik tanah jarang di China timur. Para pejabat Beijing lebih lanjut memicu ketegangan minggu ini, dengan menyebutkan tanah jarang lagi dalam serangkaian artikel media pemerintah dan komentar di media sosial. Baca Artikel Selengkapnya di sini
  23. Perang antara Amerika Serikat dan Iran kini menjadi suatu kemungkinan yang cukup besar dan mengkhawatirkan. Satu hal yang perlu diperhatikan, walaupun kemampuan militer Iran tidaklah sebesar Amerika Serikat, tapi mereka masih bisa menciptakan kerusakan yang cukup serius dan sama sekali tidak bisa diremehkan. Serangan akan menjadi kunci kekuatan Iran, dan mereka bisa melakukannya secara besar-besaran. Oleh: Harry J. Kazianis (The National Interest) Jika perang terjadi, fakta-faktanya sangatlah sederhana: Amerika Serikat dan Iran terjebak dalam kontes geopolitik jangka panjang di seluruh Timur Tengah yang akan berlangsung selama puluhan tahun, kontes yang dalam banyak hal serupa dengan perang Amerika-China untuk mendapatkan pengaruh di Asia-Pasifik dan wilayah Indo-Pasifik yang lebih luas. Dalam jangka panjang, perang AS-Iran di seluruh Timur Tengah bisa menjadi perangkap mini-Thucydides. Menggunakan ungkapan dari geostrategis guru Harvard, Graham Allison, kisah klasik tentang bagaimana ketika sebuah kekuatan yang tengah bangkit bertemu dengan kekuatan yang mapan, perang seringkali merupakan hasil yang paling umum (sebelas dari lima belas kali kejadian, menurut Allison). Memikirkan jangka panjang hubungan Amerika Serikat-Iran hanya akan mengungkapkan rangkaian kesulitan yang akan datang. Tidak ada kebijakan luar negeri atau pemikir keamanan nasional yang serius yang dapat melihat kemitraan jangka panjang di luar kemungkinan keberpihakan jangka pendek di Irak dan penurunan ketegangan dari Iran yang menunda program nuklirnya selama sepuluh tahun. Perlu diingat bahwa dalam sepuluh tahun Iran perlahan dapat memperluas program nuklirnya. Dalam lima belas tahun, Iran tidak memiliki batasan jumlah uranium yang ingin diproduksi. Lalu bagaimana selanjutnya? Melihat peta apa pun akan mengungkap banyak tantangan. Mulai dari Yaman, Suriah, hingga Lebanon dan dalam jangka panjang di Irak, sangat jelas bahwa Amerika Serikat dan Iran memiliki terlalu banyak area pertikaian sehingga hubungan mereka tidak berubah. Iran adalah negara yang, seperti China, merasa telah diperlakukan dengan buruk oleh sejarah, terutama di tangan kekuatan Barat. Iran, meski tidak berusaha untuk menciptakan semacam kerajaan di seluruh Timur Tengah, seperti yang ditunjukkan beberapa orang, tentu saja tampaknya berfokus pada perluasan kepentingan dan pengaruhnya di kawasan itu, karena kekuatan apa pun yang sedang naik daun tentu saja ingin melakukannya. Pertahanan alami dari kepentingan semacam itu biasanya dapat mengubah Iran menjadi hegemoni regional baru di Timur Tengah. Lihatlah jauh ke dalam jiwa para diplomat AS dan itulah ketakutan yang sebenarnya (dan yang juga dirasakan di antara negara-negara sekutu Amerika di wilayah itu). Sementara banyak pihak di Timur Tengah dan di luar takut akan kemungkinan aspirasi nuklir Iran, senjata semacam itu hanya merupakan bagian dari tantangan geostrategis yang jauh lebih besar. Jadi pertanyaan sebenarnya tampak cukup sederhana: Apakah Amerika dan Iran akan berhadapan dalam hal aspirasi regional Iran? Tampaknya solusi terbaik untuk tujuan-tujuan yang saling bertentangan di negara-negara tersebut adalah bagi kedua belah pihak untuk mengambil pendekatan yang sangat pragmatis, untuk menyelaraskan kepentingan mereka dalam bidang-bidang tujuan bersama, sepakat untuk tidak sepakat, dan bahkan bersaing di banyak wilayah di Timur Tengah yang lebih luas, atau dengan kata lain “frenemies.” Baca Artikel Selengkapnya di sini
  24. Kerusuhan 22 Mei yang pecah di Jakarta Pusat memaksa banyak pedagang menutup usaha mereka, termasuk di Tanah Abang yang biasanya menjadi tujuan utama belanja jelang Lebaran. Wakil Ketua Kadin memperkirakan pedagang kehilangan sekitar US$11,8 juta selama kerusuhan, ketika pembeli biasanya berbelanja untuk Idul Fitri. Kekerasan yang dipicu pengumuman hasil Pilpres 2019 ini juga diwarnai ketakutan akan kekerasan rasial. Oleh: Andre Barahamin (South China Morning Post) Penjaga toko di Jakarta, Ismail, telah menjalankan kiosnya yang menjual mie instan, telur, dan kopi instan selama 20 tahun, hingga pekan lalu ketika para demonstran yang menentang kemenangan kandidat presiden petahana Joko “Jokowi” Widodo dalam Pilpres 2019 menjarah dan merobohkan tokonya. Kios itu berlokasi di Jalan Wahid Hasyim, di samping pos polisi Sabang, salah satu dari enam kawasan kerusuhan di Jakarta Pusat dan Jakarta Barat di mana ratusan orang, kebanyakan pria muda, mengalami bentrok dengan pasukan keamanan. Para demonstran melemparkan batu, bom Molotov, dan kelereng, hingga memicu kebakaran di sepanjang jalan. Ismail, 68 tahun, menutup kiosnya, di mana ia biasanya menghasilkan sekitar 1 juta rupiah per hari, karena ketegangan yang membara hari Selasa (21/5) malam. Bentrokan berlangsung hingga dini hari Kamis (23/5) pagi. Hari Sabtu (25/5), ketika memeriksa reruntuhan kiosnya dan pos polisi yang terbakar, Ismail memperkirakan ia telah kehilangan sekitar 20 juta rupiah dalam bentuk pendapatan maupun barang. Ismail mengatakan dia dan pedagang lainnya, yang kios pinggir jalan mereka juga dijarah dan dibakar, telah menerima kompensasi dari pemerintah, meskipun pihak berwenang belum mengumumkan rencana komprehensif untuk membantu ribuan pedagang yang terkena dampak kerusuhan. Ismail menerima 20 juta rupiah sementara pedagang satunya menerima 30 juta rupiah, setelah keduanya diundang ke Istana Presiden hari Jumat (24/5). “Tidak mudah bagi saya untuk memulai berdagang lagi. Jika saya ingin membuka kios saya lagi, saya perlu mencari lokasi lain yang lebih aman atau lebih sesuai,” kata Ismail. Menurut Kamar Dagang dan Industri Jakarta, sekitar 11.000 kios dan toko terkena dampak kekerasan, yang berasal dari apa yang awalnya merupakan protes damai. Ribuan warga Jakarta dan wilayah sekitar lainnya berkumpul untuk mendukung capres oposisi Prabowo Subianto, yang mengklaim kecurangan besar-besaran yang menyebabkan kemenangan Jokowi dengan perolehan 55,5 persen suara. Baca Artikel Selengkapnya di sini
  25. Dimulai pada November 2018, pemerintahan Trump menerapkan kembali sanksi terhadap Iran, juga mengancam mitra dagang negara Teluk Persia itu dan klien minyaknya untuk berhenti melakukan bisnis atau menghadapi hukuman. Hanya sedikit insentif yang tersisa bagi Tehran untuk tetap dalam kesepakatan nuklir Iran dan tetap berada pada komitmennya. Sementara itu, penandatangan kesepakatan yang tersisa tidak dapat membantunya. Oleh: Kourosh Ziabari (Asia Times) Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam pidatonya pada Rabu malam (22/5) mengatakan bahwa dia tidak pernah benar-benar memaafkan konsesi yang disyaratkan dalam kesepakatan nuklir Iran 2015—sebuah kesepakatan yang sekarang tampaknya ditakdirkan untuk runtuh. Selama hampir dua dekade, upaya Iran untuk membangun tenaga nuklir telah menggerogoti “komunitas internasional”—yaitu AS dan sekutunya. Meskipun program nuklirnya mulai dijalankan pada tahun 1957 sebagai bagian dari program Atoms for Peace pemerintah AS, revolusi 1979 yang anti-Amerika mengubah keadaan, dan upaya pengayaan uranium Iran menjadi duri di sisi Amerika Serikat dan sekutu Eropa. Mereka menghukum Iran dengan sanksi sepihak yang ketat dan resolusi Dewan Keamanan PBB, namun Iran menolak untuk mempertimbangkan kembali posturnya. Republik Islam Iran telah membayar mahal karena menolak meninggalkan ambisi nuklirnya ini. Pada Juli 2015, setelah pertengkaran yang sia-sia selama bertahun-tahun, Iran dan enam kekuatan dunia—AS, China, Rusia, Jerman, Inggris, dan Prancis—serta Uni Eropa, mencapai kesepakatan yang kemudian dikenal sebagai Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA), yang biasa disebut sebagai kesepakatan nuklir Iran. Iran setuju untuk membatasi aspek-aspek tertentu dari program nuklirnya dan anggota tetap Dewan Keamanan, ditambah Jerman, berjanji untuk mencabut sanksi terkait nuklir negara itu. Kesepakatan yang sangat terperinci ini menghasilkan dokumen setebal 159 halaman. JCPOA dinegosiasikan dalam suasana ketidakpercayaan dan selama periode waktu yang panjang, dan dengan demikian termasuk rincian terkecil tentang komitmen yang telah dilakukan oleh masing-masing pihak. Pengaturan-pengaturan itu diringkas dalam Resolusi Dewan Keamanan 2231, dan kesepakatan itu sendiri disambut baik karena kesediaan lawan bicara yang sebelumnya keras kepala untuk membuat kompromi yang signifikan. RUNTUHNYA KESEPAKATAN? Kesepakatan yang kuat itu sekarang ada di ambang kehancuran. Penarikan Amerika Serikat dari JCPOA pada Mei 2018 dan pengenaan sanksi ekonomi oleh Donald Trump terhadap Iran telah menjadikan kelangsungan hidup kesepakatan nuklir itu sebagai prospek yang tidak masuk akal. Terlepas dari apakah Iran pernah berniat membangun bom atom, program nuklirnya telah berkembang menjadi masalah keamanan nasional, meningkat sebagai lambang kebanggaan bagi sebuah negara yang sulit ditawar pilar-pilar ideologisnya sejak 1979. Baca Artikel Selengkapnya di sini
×