Jump to content
Sign in to follow this  
matamatapolitik

Pilpres 2019 dan Tantangan untuk Pencapaian Demokrasi Indonesia

Recommended Posts

Indonesia akan melangsungkan pemilihan umum ke-lima sejak bergerak menuju negara demokrasi sesungguhnya 20 tahun yang lalu. Di ajang pemilihan presiden, para calon yang berlaga masih sama: Joko Widodo melawan Prabowo Subianto. Namun di waktu yang sama, diyakini ada pergeseran ke arah yang lebih otoriter seiring meningkatnya kelompok Islam garis keras di Indonesia.

Oleh: Edward Aspinall (East Asia Forum)

Politik Indonesia dalam satu tahun terakhir didominasi oleh satu dinamika besar: manuver dan penentuan posisi dalam persiapan untuk pemilihan presiden yang akan datang.

Bulan April 2019, Indonesia akan mengadakan pemilihan umum nasional kelima sejak negara tersebut memulai transisi menuju demokrasi pada tahun 1998. Presiden Joko “Jokowi” Widodo akan kembali mencalonkan diri, bersama dengan ribuan anggota legislatif nasional, provinsi, dan kabupaten.

Sepanjang tahun 2018, para pengamat politik memusatkan perhatian pada perkembangan seperti negosiasi yang mengarah pada pendaftaran calon presiden dan wakil presiden pada bulan Agustus 2018, serta apa yang ditunjukkan dalam putaran pemilihan kepala daerah pada bulan Juni 2018 untuk kompetisi pilpres 2019 yang akan datang.

Jokowi saat ini tampil sebagai kandidat presiden favorit. Dia memiliki koalisi yang kuat dari partai-partai nasional di belakangnya, unggul dalam jajak pendapat publik, dan menunjukkan kinerja ekonomi yang cukup baik. Tetapi jenderal purnawirawan otoriter-populis Prabowo Subianto adalah seorang lawan yang kuat pada pilpres 2014 ketika ia hanya kalah tipis dari Jokowi. Pemilihan presiden masih belum pasti menunjukkan koalisi pemerintahan kelak.

Di bawah permukaan berita pemilu, dua tren yang lebih dalam terus membentuk kembali politik Indonesia. Yang pertama adalah meningkatnya Islamisasi kehidupan publik dan polarisasi sosial terkait antara kelompok pluralis dan Islamis. Yang kedua adalah pergeseran yang lambat tapi dapat dipahami menuju langkah-langkah yang semakin otoriter, sebuah tren yang mungkin berisiko mempertaruhkan pencapaian demokrasi Indonesia.

Kedua perkembangan itu terjadi bersamaan pada tanggal 2 Desember 2018, ketika ratusan ribu orang, kebanyakan di antaranya berpakaian putih, menghadiri aksi massa Islam di Jakarta. Diadakan untuk memperingati demonstrasi yang bahkan lebih besar dua tahun sebelumnya yang mendorong pemenjaraan gubernur Jakarta saat itu Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama dengan tuduhan penistaan agama, aksi reuni 212 tersebut merupakan upaya yang terbaru dari serangkaian unjuk kekuatan oleh kelompok-kelompok Islam selama beberapa tahun terakhir.

Baca Artikel Selengkapnya -

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now
Sign in to follow this  



×