Jump to content
advertisement_alt
Sign in to follow this  
matamatapolitik

‘Tembok Besar China’, Bagaimana Beijing Menyensor Berita Protes Hong Kong

Recommended Posts

China Digital Times melaporkan bahwa pihak berwenang China telah memerintahkan media untuk menghapus video apa pun yang terkait dengan protes Hong Kong. Pihak berwenang China telah menggambarkan protes Hong Kong sebagai peristiwa kekerasan yang dipicu oleh unsur-unsur asing yang ingin melemahkan Hong Kong dan menghancurkan kebijakan “satu negara, dua sistem” China. Tetapi minat pada protes Hong Kong tetap tinggi di China meskipun ada larangan.

Oleh: Robyn Dixon (Los Angeles Times)

Ketika Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam menyampaikan permintaan maafnya yang terbaru pada Selasa (18/6) atas usahanya yang ceroboh untuk mendorong RUU ekstradisi yang kontroversial, para aktivis di China daratan sibuk mengunggah video pernyataan itu—lagi dan lagi dan lagi.

Namun, sensor China dengan cepat menurunkan unggahan-unggahan itu.

Penyensoran telah lama menjadi fakta kehidupan di China, di mana komentar yang menyampaikan perbedaan pendapat, aktivisme, atau kritik terhadap pihak berwenang segara dihapus dari internet, dan di mana akses ke banyak media Barat dan situs media sosial dilarang, dalam apa yang kadang-kadang disebut sebagai “Great Firewall of China.”

Dalam beberapa hari terakhir, sensor juga telah bekerja keras untuk menghapus konten terkait protes Hong Kong, atau apa pun yang membangkitkan semangat mereka. Bahkan sebuah lagu yang dinyanyikan oleh para pengunjuk rasa selama demonstrasi tersebut, “Can You Hear the People Sing,” dari film musikal Les Miserables, telah dihapus dari QQ, salah satu situs streaming musik paling populer di China.

China Digital Times—sebuah situs web yang berbasis di California yang memantau sensor China—melaporkan bahwa pihak berwenang China telah memerintahkan media untuk menghapus video apa pun yang terkait dengan protes Hong Kong. Istilah “Ayo Hong Kong” juga disensor.

Seorang aktivis China daratan mengatakan kepada The Times bahwa ia tetap terjaga sepanjang malam setelah dua protes massa tersebut, berusaha untuk mendahului sensor dengan membagikan video dan foto di grup obrolan media sosial China daratan—hanya untuk melihatnya dengan cepat menghilang.

Sebaliknya, pihak berwenang China telah menggambarkan protes Hong Kong sebagai peristiwa kekerasan yang dipicu oleh unsur-unsur asing yang ingin melemahkan Hong Kong dan menghancurkan kebijakan “satu negara, dua sistem” China, yang dimaksudkan untuk memastikan posisi Hong Kong sebagai pusat keuangan global dengan menjamin hak untuk kebebasan berbicara dan hak untuk protes.

Hong Kong—bekas koloni Inggris—diserahkan kembali ke bawah kontrol China pada tahun 1997 setelah periode pemindahan yang berkepanjangan. Kesepakatan penyerahan tahun 1984 yang ditandatangani antara Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher dan Pemimpin China Deng Xiaoping saat itu, menghasilkan tradisi protes damai di Hong Kong.

Baca Artikel Selengkapnya di sini

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now
Sign in to follow this  

×