Jump to content
advertisement_alt
Sign in to follow this  
matamatapolitik

Tidak Masuk Akal: Penolakan Palestina atas Konferensi Bahrain

Recommended Posts

Amerika Serikat mendesak para pejabat Palestina untuk berpikir di luar “batas tradisional” setelah boikot terhadap konferensi Bahrain yang berfokus pada ekonomi. Konferensi itu dikritik oleh Palestina dan pihak-pihak lainnya karena tidak membahas inti politik dari konflik Israel-Palestina. Penggagas rencana itu, Jared Kushner, mengatakan bahwa pintu tetap terbuka bagi Palestina untuk terlibat dalam rencana perdamaian, menyalahkan kepemimpinan Palestina yang telah mengecewakan rakyatnya. 

Oleh: Al Jazeera

Konferensi ekonomi yang dipimpin Amerika Serikat di Bahrain ditutup di tengah cemoohan dan penolakan dari para pejabat Palestina hari Rabu (26/6). Mereka mengatakan bahwa kerangka kerja rencana itu untuk meningkatkan perdagangan dan investasi telah mengabaikan aspirasi politik mereka untuk status kenegaraan. Konferensi Bahrain selama dua hari, yang dipimpin oleh Penasihat Senior Gedung Putih Jared Kushner, dimulai hari Selasa (25/6) di ibu kota Bahrain, Manama, dan memamerkan bagian ekonomi dari rencana perdamaian Timur Tengah oleh pemerintahan Trump yang telah lama ditunggu-tunggu.

Kushner, yang juga merupakan menantu Trump, mendesak para pemimpin Palestina yang memboikot acara tersebut untuk berpikir di luar “batas tradisional” dan mempertimbangkan rencana senilai US$50 miliar untuk meningkatkan ekonomi Palestina dan negara-negara tetangga, yang diharapkan Amerika akan dibiayai oleh negara-negara kaya Teluk.

Namun konferensi itu dikritik oleh Palestina dan pihak-pihak lainnya karena tidak membahas inti politik dari konflik Israel-Palestina.

“Gajah dalam ruangan di Manama jelas merupakan pendudukan Israel itu sendiri,” ujar pejabat senior Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Hanan Ashrawi kepada wartawan di Kota Ramallah, Tepi Barat yang diduduki, menambahkan bahwa lokakarya itu “sepenuhnya tercerabut dari realitas.”

Kushner mengatakan kepada awak media bahwa timnya akan merilis rincian politik dari rencana itu, yang tetap dirahasiakan, “ketika kami siap,” menambahkan, “Kita masih akan melihat apa yang terjadi selanjutnya.”

Kushner mengatakan bahwa kesepakatan damai akan terjadi ketika kedua belah pihak siap untuk mengatakan “ya.” Dia menyadari bahwa mereka mungkin tidak akan pernah sampai ke sana.

Pemerintah Israel maupun Palestina tidak menghadiri pertemuan itu, yang terjadi di tengah kebuntuan selama bertahun-tahun dalam berbagai upaya internasional lainnya untuk menyelesaikan konflik yang telah berlangsung selama lebih dari tujuh dekade.

‘SOLUSI TERHADAP PENDUDUKAN BUKANLAH UANG’
Konferensi Peace to Prosperity menetapkan tujuan ambisius untuk menciptakan satu juta pekerjaan baru di Palestina melalui investasi US$50 miliar dalam bentuk infrastruktur, pariwisata, dan pendidikan di wilayah Palestina dan negara-negara tetangga Arab. Rencana tersebut juga mengusulkan koridor transportasi senilai $5 miliar untuk menghubungkan wilayah Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Tetapi orang-orang Palestina, menurut koresponden Al Jazeera Nida Ibrahim, telah bersikukuh mengatakan bahwa solusi ekonomi apa pun harus terjadi bersamaan dengan proses politik. “Palestina tidak melihat bahwa solusi untuk masalah mereka hanya dengan uang,” kata Ibrahim, berbicara dari Ramallah. “Mereka mengatakan mereka tidak mencari kehidupan yang lebih baik di bawah pendudukan, tetapi mencari cara untuk mengakhirinya.”

Baca Artikel Selengkapnya di sini

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now
Sign in to follow this  

×