Jump to content
advertisement_alt
Sign in to follow this  
matamatapolitik

Shanahan Mengundurkan Diri, Kabinet Trump Makin Kosong

Recommended Posts

Kepergian pelaksana tugas Menteri Pertahanan AS Patrick Shanahan menggarisbawahi jajaran senior pemerintahan Trump yang makin kosong. Shanahan bahkan tidak pernah secara resmi dicalonkan oleh Gedung Putih, tetapi setidaknya dia berhasil bertugas dalam jabatannya selama enam bulan. Trump pun mengumumkan bahwa Sekretaris Angkatan Darat Mark Esper akan menggantikan Shanahan sebagai pelaksana tugas Menteri Pertahanan.

Oleh: Eliana Johnson dan Marianne Levine (POLITICO)

Lebih dari satu tahun yang lalu—beberapa saat setelah ia memecat Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Rex Tillerson melalui Twitter—Presiden Donald Trump memandang ke depan dengan optimis untuk membentuk kembali Kabinetnya.

Berdiri di jalan masuk Gedung Putih, Trump mengatakan kepada para wartawan, “Saya benar-benar pada titik di mana kita menjadi sangat dekat dengan memiliki Kabinet dan hal-hal lain yang saya inginkan.”

Itu belum cukup berhasil. Justru, Trump memiliki Kabinet yang berubah-ubah, di mana banyak yang mengundurkan diri atau dipecat.

Dalam contoh terbaru, pelaksana tugas Menteri Pertahanan Patrick Shanahan menarik diri dari jabatan teratas Pentagon untuk saat ini pada Selasa (18/6), seiring para media merilis rincian mengerikan mengenai perceraiannya.

Shanahan bahkan tidak pernah secara resmi dicalonkan oleh Gedung Putih, tetapi setidaknya dia berhasil bertugas dalam jabatannya selama enam bulan.

Yang lain berhasil melangkah sedikit lebih jauh sebelum keluar dari Washington pimpinan Trump. Calon Menteri Tenaga Kerja Andy Puzder melihat dukungannya menguap di Senat ketika POLITICO menerbitkan tuduhan kekerasan rumah tangga dari mantan istrinya, dan menyerah bahkan sebelum ia duduk untuk persidangan. Ronny Jackson—dokter Gedung Putih Trump yang memilih untuk menjalankan Urusan Veteran—mengundurkan diri setelah tuduhan pelanggaran pada pekerjaannya di Gedung Putih.

Jika ada benang merah di antara mereka semua, itu adalah seorang presiden yang senang mengangkat orang berdasarkan insting—dan tanpa memperhatikan pengalaman pemerintah sebelumnya—ditambah Gedung Putih yang operasi pemeriksaannya tidak dilakukan dengan saksama, dan mayoritas Senat Republik yang tidak memberikan ruang untuk kesalahan.

Hasilnya adalah jajaran senior pemerintahan Trump sebagian besar mencakup individu-individu yang—dalam banyak kasus—bukanlah pilihan pertama atau bahkan kedua Trump untuk mengisi jabatan yang diberikan, tetapi menjadi satu-satunya pilihan logis setelah opsi lain menghilang.

Mereka termasuk pelaksana tugas Kepala Staf Gedung Putih Mick Mulvaney—yang menerima posisinya setelah beberapa orang lainnya mundur—termasuk Perwakilan Mark Meadows (R-N.C.) dan mantan Gubernur New Jersey Chris Christie; pilihan Trump untuk menjadi Duta Besar untuk PBB Kelly Craft, yang kemudian ditunjuk setelah mantan juru bicara Departemen Luar Negeri Heather Nauert diam-diam menarik diri dari pemilihan; dan Jaksa Agung William Barr, yang menolak Gedung Putih sebelum akhirnya menerima pekerjaan itu setelah kandidat lain yang direkomendasikannya ditolak.

Tambahkan kesengsaraan dalam pemerintahan ini dengan pergantian yang luar biasa tinggi, serta pemerintahan Trump yang dijalankan dalam banyak kasus oleh para pelaksana tugas.

Baca Artikel Selengkapnya di sini

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now
Sign in to follow this  

×