Jump to content
advertisement_alt
Sign in to follow this  
matamatapolitik

Perang Suriah Belum Usai, Rusia dan Turki Perkuat Upaya Diplomatik

Recommended Posts

Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu telah memperingatkan adanya kemungkinan serangan pemerintah Suriah di provinsi Idlib yang dikuasai pemberontak Suriah sebelumnya, dan mengatakan bahwa solusi militer “akan menjadi bencana,” bukan hanya untuk daerah itu, tetapi untuk seluruh Suriah.

Cavusoglu melontarkan komentar tentang Perang Suriah itu di Moskow, ketika pasukan Suriah yang didukung oleh Rusia berkumpul, menjelang serangan yang diperkirakan terhadap Idlib.

“Kita harus terus bekerja sama untuk mempertahankan gencatan senjata di Suriah, di bawah Proses Astana,” kata Cavusoglu pada konferensi pers Moskow dengan rekannya dari Rusia, Sergey Lavrov. Cavusoglu juga mengutip risiko bagi penduduk sipil yang besar di wilayah itu, dengan mengatakan, “Warga sipil akan dirugikan.”

Lavrov, untuk bagiannya, mengatakan, “Kami sepakat untuk melanjutkan upaya bersama kami untuk menstabilkan situasi di wilayah (Suriah), dan menciptakan kondisi yang aman bagi pengungsi Suriah untuk pulang ke rumah.”

Proses Astana menyerukan Rusia dan Iran—para pendukung utama pemerintah Suriah—untuk bekerja sama dengan Turki—salah satu pendukung utama pemberontak—untuk mengakhiri perang sipil Suriah.

Idlib adalah salah satu dari apa yang disebut “zona de-eskalasi” yang dibuat di bawah Proses Astana, di mana pemberontak dan keluarga mereka pindah ke area yang dilindungi oleh gencatan senjata; Namun, pasukan pemerintah Suriah yang didukung oleh kekuatan udara Rusia telah menguasai semua zona kecuali Idlib.

Lebih dari dua juta warga Suriah, bersama dengan sekitar 100 ribu atau lebih pemberontak, bersembunyi di Idlib, yang berbatasan dengan Turki. Ankara telah mendirikan 12 pos pengamatan militer sebagai bagian dari kesepakatan dengan Teheran dan Moskow.

Pada bulan Juni, seorang penasihat senior Presiden Turki—berbicara dengan VOA dengan syarat anonimitas—memperingatkan bahwa Ankara tidak akan mengizinkan Idlib untuk dikuasai.

“Ini adalah ‘bom’ waktu yang perlu dijaga (agar tak meledak), saat ini,” kata mantan diplomat senior Turki, Aydin Selcen, yang menjabat di seluruh wilayah itu.

Baca Selengkapnya: Sumber

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now
Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By matamatapolitik
      Seiring putaran kedua perundingan Moskow tentang Afghanistan berakhir di ibu kota Rusia tersebut, pemerintah Afghanistan dan Taliban masih tampak berjauhan dan tidak mungkin bernegosiasi tanpa ada terobosan.
      Para peserta pada pertemuan tersebut berfokus pada peluncuran dialog langsung antar-Afghanistan yang bertujuan untuk stabilisasi negara, dan “setuju untuk melanjutkan diskusi dalam kerangka mekanisme ini,” kata Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah komunike akhir setelah pertemuan tersebut.
      Din Mohammad Azizullah — kepala delegasi pemerintah Afghanistan — membenarkan bahwa dia “melakukan pembicaraan singkat” dengan anggota Taliban dalam sebuah diskusi makan siang, dan menggambarkan perundingan tersebut sebagai “ramah.”
      Namun Sher Mohammad Abbas Stanikzai — yang memimpin kelompok Taliban — menegaskan kembali bahwa Taliban tidak melihat pemerintahan saat ini di Kabul sebagai sah. “Pemerintah ini tidak mewakili rakyat Afghanistan, jadi kami menolak kontak langsung dengan mereka sebelum masalah dengan Amerika Serikat (AS) terpecahkan. Oleh karena itu, kami akan berbicara dengan Amerika, terutama tentang penarikan pasukan,” katanya.
      “Kami bertemu dengan pihak Amerika di meja perundingan dan meminta mereka untuk meninggalkan Afghanistan. Namun, tentu saja, sejauh ini negosiasi tersebut masih pada tahap awal, kami belum mencapai kesepakatan,” katanya.
      Pertemuan itu menandai pertama kalinya pemerintah Afghanistan dan Taliban bertemu untuk pembicaraan langsung pada tingkat tinggi. Konferensi ini diadakan di tingkat Wakil Menteri Luar Negeri dan perwakilan khusus yang terkait.
      Berbicara di depan para peserta pada awal konferensi, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan bahwa pertemuan itu dimaksudkan untuk mencari jalan menuju rekonsiliasi nasional di Afghanistan.
      Sebelum pertemuan, Habiba Sarabi — anggota delegasi Dewan Perdamaian Tinggi Afghanistan — mengatakan bahwa delegasi pemerintah Afghanistan datang ke Moskow untuk berbicara dengan Taliban. “Harapan kami adalah untuk berbicara dengan anggota Taliban pada pertemuan ini,” katanya.
      Dia menambahkan, “Kami datang ke sini untuk mencari solusi politik. Kami menghargai upaya negara mana pun yang mencoba berkontribusi dalam perdamaian Afghanistan.”
      Pemerintah Afghanistan dan perwakilan Taliban membuat pernyataan terpisah setelah berakhirnya sesi resmi dari konferensi tersebut.
      Baca Selengkapnya: https://www.matamatapolitik.com/rundingkan-perdamaian-pemimpin-taliban-dan-afghanistan-bertatap-muka-di-moskow/
    • By matamatapolitik
      Terlepas dari peringatan bahwa penarikan diri dapat menyebabkan perlombaan senjata nuklir baru, penasihat keamanan nasional Amerika Serikat (AS) menolak permintaan Rusia pada Selasa (23/10), untuk tetap berkomitmen pada perjanjian perlucutan senjata tersebut.
      Penasihat itu, John R. Bolton, mengatakan setelah pertemuan dengan Presiden Vladimir V. Putin dan pejabat Rusia lainnya, bahwa sedikit kemajuan telah dibuat dalam menyelesaikan keluhan Presiden Trump bahwa Rusia telah mengingkari perjanjian senjata nuklir tersebut, Perjanjian Kekuatan Nuklir Tingkat Menengah atau INF.
      Trump mengatakan bahwa dia berencana untuk menarik diri dari perjanjian senjata nuklir itu, karena Rusia melanggarnya dan China bukan penandatangan. Presiden Ronald Reagan dan Pemimpin Soviet Mikhail S. Gorbachev menandatangani perjanjian tersebut pada tahun 1987, yang menyingkirkan ratusan rudal nuklir di Eropa.
      “Ini adalah posisi Amerika bahwa Rusia melanggar,” kata Bolton pada sebuah konferensi pers, dalam menanggapi pertanyaan tentang perjanjian itu. “Ini adalah posisi Rusia bahwa mereka tidak melanggar. Jadi kita harus bertanya, ‘Bagaimana Anda meyakinkan Rusia agar kembali mematuhi kewajiban yang menurut mereka tidak dilanggar?’”
      Bolton mengatakan bahwa Amerika Serikat sekarang akan berkonsultasi dengan sekutunya di Eropa dan Asia. Masih ada kemungkinan bahwa keputusan pemerintah belum final. Namun, Bolton mengatakan pada Selasa (23/10) setelah pertemuan di Moskow, bahwa pemberitahuan resmi tentang penarikan diri “akan diajukan pada waktunya.”
      Baca Sumber
×